Dulu ku pikir dia berbeda
dengan lelaki lain, ku pikir dia memang benar-benar mencintaiku dengan tulus,
ku pikir dia setia. Tapi pikirku salah, dia pembohong besar, Bara hanya
berpura-pura mencintaiku. Dia main wanita dibelakangku. Ternyata dia
mengkhianati cintaku. Sakit sekali disaat dia memutuskan untuk meninggalkanku
hanya karena wanita lain. Hingga saat ini pintu hatiku masih sulit dibuka untuk
orang lain. Mungkin karena terlalu takut untuk jatuh cinta lagi. Takut disakiti
yang kedua kali lagi. Karena mungkin itu resikonya. Jika kita ingin jatuh cinta
harus siap pula untuk patah hati. Jika kita sayang kepada seseorang harus siap
juga untuk ditinggalkan.
Tapi belakangan ini, ada
seorang temanku. Dia mulai mendekatiku. Awalnya kita dekat hanya sekedar
menanyakan tugas tugas kuliah, tapi akhir-akhir ini obrolan kita menjadi
sedikit intens. Namanya Raffi. Dia menjadi lebih perhatian terhadapku. Baik
lewat pesan singkat atau tatap muka sekalipun. Apalagi dia adalah teman
sekelasku dikampus.
*Kring.. Kring...* Blackberry
ku berbunyi, tanda BBM masuk. Ternyata bbm dari Raffi.
Raffi :
Key, Kita nonton yuk!!
Raffi ngajak nonton bareng.
Memang dari dulu dia sering ngajak nonton, tapi tak pernah ku gubris, aku
selalu bilang iya iya aja, namun tak jadi jadi. Karena kasihan, akhirnya aku
berniat untuk sekarang menerima ajakan dia.
Aku : Oke! Kapan ?
Raffi :
Malam minggu ini. Gmna ?
Aku : Sip
Sabtu malam di akhir Desember
2013.
*Tok…tok….tok* Pintu Kostanku
diketuk.
"Siapa ?"
tanyaku, sambil melirik cermin sekali lagi kalau aku sudah rapih dan siap untuk
berangkat.
"Raffi" Pintu
pun ku buka, kulirik kiri kanan, ternyata hanya Raffi saja yang ada didepanku.
"Yang lainnya mana ?"
Tanya ku
"Kita cuma nonton berdua
kok key, gak apa-apa kan ?" Lah, pikirku dia ngajak yang lain, ternyata
tidak. Kita hanya akan menonton berdua dan itu membuat ku heran. Tak jarang,
Raffi ngajak nonton hanya berdua saja, dan itu dengan ku, di malam minggu pula.
"Oh.. gak apa-apa kok. Yuk
berangkat" ajakku. Kita berjalan menuju Mall terdekat sekitar Kampusku.
Karena jaraknya cukup dekat, dengan menempuh hanya 5 menit saja sudah sampai.
Tiba di tempat penjualan tiket
cinema 21.
"Key, mau nonton apa nih ?"
"Gimana kamu aja, kan kamu
yang ngajak" Dia menimbang-nimbang dan melihat layar yang ada dibelakang
kasir tiket yaitu daftar judul-judul film yang ditayangkan.
"kita nonton Kapal Van Der
Wijck aja yuk!!"
"Oke, film itu aja,
kayanya menarik"
"Mba, tiket Kapal Van Der
Wijck dua" ucapnya kepada kasir itu
"Semuanya Tujuh Puluh Ribu
Rupiah mas" Katanya sambil menyerahkan tiket. Ketika aku hendak mengeluarkan
dompet. Dia bilang "Gak usah, dari aku ajah"
"Thank’s fi " ucapku
Kita pun masuk ke Studio 1
tempat film itu akan kita tonton. Kita duduk di kursi bagian C jajaran ke 3
dari belakang. Tak lama film itu pun di mulai.
Pada saat dipertengahan film.
Tiba tiba saja, tangan Raffi memegang tanganku, sontak aku kaget. Tak biasanya
dia melalukan hal itu. Lalu pas aku nengok ke wajahnya, dia membalas tengokanku
lalu tersenyum, entah kenapa aku menerima saja genggaman itu, aku tak
mengelaknya karena rasanya itu membuatku nyaman.
Mungkin sudah lama rasanya aku
tak merasakan genggaman dari seorang lelaki. Jujur saja, itu teringatkanku
kepada Bara, saat kita masih pacaran saat dia selalu melindungiku dengan tangan
besarnya lewat genggaman tangannya terhadap tanganku, tapi itu dulu.
Setelah hampir dua jam
setengah, film itupun selesai. Lumayan, membuat badan itu pegal karena kelamaan
duduk. Dengan sadar tangannya pun dilepaskannya. Dan berkata “maaf” . Baru
bilang maaf setelah hampir satu jam dia pegang tanganku.
Tapi aku tak mengelak,
ku balas dengan senyum saja.
Akhirnya kita keluar dari
studio tersebut. Ku lirik jam tanganku ternyata jarum jam menunjukan jam
sembilan lebih tiga puluh menit, dan itu bagiku sudah malam. Dan
pintu gerbang kostan ku ditutup jam sepuluh malam. Kita jalan kaki menuju
kostan masing-masing.
"Fi, makasih yaaa. Aku
masuk dulu…" ucapku ketika sudah tiba di depan kostanku
"Iyaa, makasih juga key,
aku pulang yaa…" pamitnya
"Iyaa, hati-hati"
kataku, akupun langsung masuk menuju kamarku.
31 Desember 2014
Terpaksa aku harus menjalani
malam tahun baru ini dikostan, tidak dirumah dengan keluargaku. Semua ini
karena UAS di kampusku belum selesai. Entah aku harus menjalani malam tahun
baru dengan siapa, sedangkan teman-temanku pergi bersama kekasih mereka
masing-masing untuk menikmati malam tahun baru yang indah bagi mereka. Tapi
tidak untukku, bagiku mungkin malam nanti akan terlihat flat, tidak special,
biasa aja.
Siang ini, aku pergi ke mini
market terdekat untuk membeli sedikit cemilan buat malam nanti, karena aku
sudah merencanakan malam ini akan diam dikostan menikmati siaran televisi
indonesia sambil ngemil, bagiku itu tidak akan buruk.
Tiba di mini market, aku
membeli beberapa cemilan. Setelah itu, aku pun pulang menuju kostanku sambil
menenteng makanan yang barusan aku beli.
Ketika diperjalanan menuju
kostan, “Key….” serasa ada yang memanggil namaku, entah siapa.
"Key…. Tunggu!!" Ku
tengok ke belakang, ternyata benar ada yang memanggilku. Dia Raffi. Dia
berlari-lari menuju kearahku, sampai akhirnya.
"Iyaaa, ada apa fi ?"
"Ada yang ingin aku
bicarakan sama kamu key" Katanya dengan ngos-ngosan mungkin efek
berlarian.
"Yaaa.. bicara aja kali
fi, biasanya juga suka langsung ngomong" ceplosku
"Tapi, tidak disini
key"
"yaa,. terus dimana ?"
"Nanti malem kamu ada
acara ga ? " Key pun berpikir sejenak, dan menimbaang- nimbang.
"Sepertinya tidak ada.
Kenapa emang?"
"Kalau enggak ada, aku
ingin ngajak kamu jalan-jalan key, kita ketemu jam 9 malem di taman kota yaa.
Ditunggu!!, bye!" Raffi pun langsung pergi meninggalkanku, padahal aku
belum juga ngasih persetujuan kepadanya. Tapi dipikir-pikir ada benarnya juga,
aku memang tak ada acara malam itu, lagian malam ini malam tahun baru, bagiku
itu menarik jalan bareng Raffi, ya walaupun hanya sama Raffi, tapi bagiku itu
sudah cukup membuatku bahagia untuk tahun baru kali ini.
Aku pun langsung menuju kostan.
Tak ada kerjaan selain menonton televisi, sambil menunggu jam 9 malam. Tapi aku
heran lagi, akhir-akhir ini Raffi sering sekali ngajak jalan bareng. Terlebih
sekarang, dia sering bbman sama aku, dan bbman pun bukan bbman biasa, dia jadi
sedikit perhatian, sering ngingetin aku makan, mandi, beribadah, segalanya, yaa
seperti Bara dulu yang sering memperhatikanku seperti itu. Tapi sayangnya, aku
tak terlalu menggubris balasan dari Raffi, aku selalu jawab seadanya saja, tak
seperti sama Bara dulu, jika ada bbm dari dia pasti aku balas dan selalu ku
gubris dengan senang hati.
Namun, jujur saja sih,
akhir-akhir ini akupun jadi sedikit nyaman ada didekat Raffi, mungkin karena
perlakuan dia terhadapku yang terlalu berlebih. Memang aku terlihat biasa saja
perlakuanku terhadap dia, tapi jika aku didekatnya rasanya begitu nyaman,
apalagi kejadian dulu ketika kita nonton, dia pegang tanganku begitu hangat,
anehnya aku tak menolaknya, mungkin itu, aku merasa nyaman didekatnya.
Pukul 21.50 di Taman Kota
Aku menggunakan kaos oblong
warna merah dan celana jeans biru dongker panjang menggunakan tas selendang
kecil berwarna hitam. Dan aku lupa tidak memakai jaket karena aku tadi terlalu
buru-buru gara-gara tadi ketiduran dikostan. Dilirik jam tanganku sudah pukul
21.50, aku ngaret hampir satu jam, pasti Raffi sudah menungguku sangat lama.
Kulihat kiri kanan mencari Raffi. Disana ada sesosok laki-laki menggunakan
jaket coklat dengan celana jeans hitam panjang dan sepatu kest warna hitam pula
sedang duduk dikursi besi panjang yang memunggungiku, ku lihat-lihat rasanya
aku kenal, lalu aku menghampirinya.
Pikirku benar, sesosok lelaki
itu ternyata Raffi, akupun menghampirinya lalu dia pun melihat kearahku, sambil
menyunggingkan senyum diwajahnya, dia cukup menarik malam ini meskipun dia
memiliki kulit sawo matang sama sepertiku tapi dia memiliki hidung yang bangir
seperti orang arab. Jujur saja aku suka penampilannya malam ini, dia terlihat
tampan. Lah kok, aku jadi sedetail ini memperhatikannya.
"Hey… Key.. kok bengong
?"
"Haah, apa fi ?"
kaget ku, lah sedetail ini aku memperhatikannya dari tadi, hingga aku tak sadar
dia berbicara padaku
"huh hah heh heh, udah
yuk!! kita ke sana beli kembang api" ajaknya , sambil menarik tanganku,
aku kaget dia memegang tanganku yang kedua kalinya dengan begitu hangat, lalu
menuju tukang kembang api yang di tunjung Raffi tadi. Aku pun mengikutinya, dia
tetap saja memenggang tanganku. Setelah membeli kembang api, kita pun duduk
dikursi besi yang tadi diduduki Raffi pas kita ketemu.
"Fi, maaf yaa aku ngaret
tadi, habis aku tadi ketiduran, maaf yaa" Jujurku, aku minta maaf kedia
karena aku memang salah.
"Iya gak apa-apa kok key,
kamu udah datang pun aku seneng banget, makasih yaa udah datang"
"lah kok bilang makasih,
aku yang salah gara-gara aku telat"
"ya sudah, tunggu bentar
yaa aku mau kesana dulu, kamu tunggu disini yaa, awas jangan kemana-mana"
aku mau tanya kedia mau kemana, dia langsung ngeleos aja. hem! kebiasaan dia
seperti itu. Akhirnya aku pun nunggu dia, sambil melihat orang-orang disana dengan
bahagianya memainkan kembang api, meniup terompet, juga tukang jajanan yang
begitu ramai oleh para pengunjung disini, tak hanya itu hiruk pikuk kendaraan
yang mulai memadati taman kota ini. Ini kali pertama aku keluar malam, ditaman
kota yang begitu banyak orang. Awalnya aku tak suka dengan kegaduhan-kegaduhan
disekitar sini yang begitu berisik, terlebih banyak orang yang berdua-duaan
bersama kekasihnya, yang membuatku sedikit envy, mungkin mereka akan menikmati
malam tahun baru ini begitu indah, ya pikir mereka. Karena ajakan Raffi kesini,
akupun mau. Tak lama Raffi pun datang, dengan menenteng permen kapas berwarna
pink.
"Taraaaaaaat, nih buat
kamu" Raffi memberikan permen kapas itu untukku, dan aku pun menerimanya.
"aaah makasih banyak
Raffi, kok tau sih aku suka permen kapas"
"dan ini satu lagi,
taraaaaaat" dia mengeluarkan permen cha-cha kesukaanku dari saku
celananya.
"Raffiiiiii, kamu baik
banget. makasih yaaa" dengan refleks aku memeluknya saking senangnya.
"Eh maaf" ucapku,
sambil melepaskan pelukan itu. Entah kenapa dia begitu baik terhadapku, bahkan
permen favoriteku saja dia belikan untukku.
Akhirnya aku dan Raffi pun
menikmati malam ini, kita bermain kembang api sambil memakan permen kapas yang
dikasih oleh Raffi. Aku berteriak meneriakkan kembang api itu, rasanya aku
begitu senang malam ini, ini sangat special, baru merasakan lagi kebahagiaku
ini, setelah setahun aku diselimuti rasa galau karena Bara, namun dengan
kedatangan Raffi kedalam kehidupanku itu membuat hidupku lebih berwarna lagi,
dia membuatku tersenyum seperti ini.
Semakin malam semakin dingin,
gara-gara aku tak membawa jaket akupun kedinginan apalagi dengan pakaianku yang
hanya memakai kaos oblong. akupun lalu duduk dikursi besi panjang itu, sambil
menelengkup kedua tanganku. Raffi melihatku seperti kedinginan, dia pun
menghampiriku.
"Key..." sahutnya,
aku hanya bergumam saja
"Kamu kedinginan yaa
?"
"Hehe, iyaa, tadi lupa ga
bawa jaket"
Jujurku. Raffi segera membuka jaket coklatnya, lalu memberikan jaket itu
kepadaku
"Ya udah, pake saja
jaketku"
"jangan" tolakku,
"Nanti kamu kedinginan" lanjutku
"Enggaklah key, aku kan
cowok aku masih kuat kok, lagian bajuku juga berlengan panjang, pake yaaa"
paksanya, akhirnya aku pakai jaketnya. Kenapa dia begitu perhatian terhadapku,
begitu peduli, dan anehnya aku selalu luluh dibuatnya. Raffi....
"Makasih" ucapku
dengan senyum simpulku. Terimakasih Raffi, kau buat malam ini begitu indah dan
berwarna, ucapku dalam hati.
23.57
Tak terasa 2 jam berlalu, kita
bersenang-senang menikmati malam ini, ini saatnya dimana malam pergantian tahun
baru benar-benar dimulai. Orang-orang sekitar telah siap-siap menyaksikan
kembang api terbesar di taman kota ini dalam hitungan detik. Pergantian tahun
akan segera dimulai tiga menit lagi.
Tapi dibalik itu Raffi menarik tanganku,
dia menggenggam erat tanganku. Deg.. hatiku, kenapa hatiku berguncang hebat
ketika dia menggenggam tanganku. Padahal kemarin-kemarin aku biasa aja, lain
halnya dengan sekarang, itu terasa lebih hangat.
"Keysa, kau tahu mengapa
aku mengajak kamu kesini ". Aku hanya bisa menggeleng,dan menunduk
kepalaku, aku tak kuat membalas tatapannya yang begitu intens, lalu tangan
besarnya berpindah kewajahku dan mengangkat wajahku, agar aku bisa melihat
wajahnya dan matanya.
"Ada yang ingin aku
bicarakan sama kamu" tangannya menyelusuri rambutku.
"Jujur saja key, dari dulu
sejak aku tahu kamu berpacaran dengan Bara, aku menyukaimu" Mataku
melotot, dengan kagetnya. Hatiku semakin tak karuan.
"Ketika kau putus bersama
Bara, aku senang sekali, disana aku berpikir aku bisa mendekatimu, namun sayang
selama setahun ini kamu tak bisa melupakan Bara, kau terus mengaisi masalalu mu
dengan Bara, sedangkan kau tak pernah sadar, ada aku yang akan menyembuhkan
luka dihatimu"
"aku terus berusaha untuk
mendapatkan hatimu, dan sekarang. Aku senang, akhir-akhir ini kau selalu
menerima ajakkanku, mungkin ini waktu yang lebih tepat bagiku untuk
mengataknnya"
"selama setahun aku
menunggumu, disini di tempat ini, atas nama bumi dan langit juga seisinya, dan
riakan-riakan kembang api yang bermunculan menjadi saksi malam ini"
"Aku menyatakan, bahwa Aku
Mencintaimu Keysa" Sontak hatiku rasanya bergemuruh seperti kembang api,
rasaku bercampur aduk, senang, bahagia, sedih juga ragu segalanya bercampur
menjadi satu. Tapi aku tak bisa berkata apa-apa, mulutku rasanya bungkam untuk
bicara sepatah dua patah kata pun, sulit rasanya. Ternyata selama ini dia
mencintaiku.
Dia mendongkakkan wajahnya
hingga sejajar denganku, aku semakin deg-degan dengan reaksinya yang seperti
itu, wajahku dengannya semakin dekat hingga beberapa sentimeter saja, nafasnya
mulai terasa, hidung kami pun semakin mendekat. Bibir kami pun akhirnya saling
bersentuhan, aku tak menolaknya, bahkan aku menerima sentuhan bibirnya.
*Tiga….. Dua…. Satu* *Duaaaaaaaaaar*
Ledakan kembang api besar pun mewarnai seluruh taman kota, sorak sorai
orang-orang dan tiupan terompet ikut memeriahkan malam tahun baru. Aku pun
langsung melepaskan ciuman itu, ciuman itu pertanda bahwa aku menerimanya
cintanya. Kita akhirnya menjadi sepasang kekasih di Tahun Baru ini, sungguh
bagiku ini adalah kado yang paling mengejutkan di Januari ini.
"Terimakasih Key, aku
janji aku akan menjadi laki-laki yang setia, aku akan selalu menjagamu sampai
kapanpun, aku benar-benar mencintamu key" Langsung dia memeluku begitu
hangat, pelukan itu begitu tulus, aku pun membalas pelukannya.
Terimakasih Tuhan, kau telah
memberikanku lelaki yang begitu tulus menyayangiku, aku percaya janjimu Tuhan.
Benar, ini adalah obat yang diberikan olehMu selama aku terus bersabar
menghadapi cobaan yang aku derita setahun yang lalu, ini adalah obat yang
terindah selama hidupku, obat itu adalah kamu Raffi.
3 Januari 2014
Akhirnya UAS terakhir pun
selesai, dulu sebelum aku jadian sama Raffi, rencanaku akan pulang ke Jakarta
setelah UAS, tapi rencanaku diundur saja, karena Raffi mengajak jalan-jalan
kesuatu daerah pegunungan di daerah Bandung Selatan yaitu didaerah Ciwidey. Karena
UAS beres jam 10, akhirnya kami pun langsung pergi menuju daerah yang akan kami
kunjungi Kawah Putih, dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Raffi.
Pukul 12 siang akhirnya kami
sampai di Kawah Putih, Ciwidey. Meskipun tengah siang begini, cuaca disana
tetap dingin, aku dan Raffi menggunakan jaket yang tebal. Disini kami berphoto
bersama, menikmati kawah berwarna hijau tosca yang mengepulkan asap dan bau
belerangnya. Walaupun diluar begitu dingin, tapi tidak dengan hatiku, hatiku
begitu hangat berada didekatnya.
Aku sekarang mulai membuka
pintu hati untuk Raffi, karena akan percuma jika aku terus mengaisi masalaluku,
sedangkan disini ada Raffi yang begitu tulus mencintaiku, aku tak akan
menyia-nyiakan kesempatan ini. Selama 3 hari setelah kita jadian aku berusaha
menerima Raffi, dan benar aku bisa, sekarang aku mulai mencintainya, menyayanginya.
Beruntung sekali aku bida memilikinya, dia yang begitu tulus mencintaiku. Aku
mencoba bertahan untuknya, bagiku dia lelaki yang berbeda, dia sesosok pria
yang setia, yang akan menjaga wanita yang dicintainya, yaitu aku. Kami
bersenang-senang disini, bercanda tawa gembira. Tak ada lagi
kecanggungan-kecanggungan Raffi semenjak kita pacaran, dia selalu jujur apa
adanya terhadapku begitupun sebaliknya.
Setelah menikmati alam bebas di
Kawah Putih, kami pun menuju Situ Patenggang, tiba disana, hawa dingin pun
masih menyelimuti meskipun sekarang sudah siang sekitar pukul 2 siang, tapi
tetap terasa dingin. Disini kita menyewa Sepeda Air, kami menaik benda
seperti bebek itu dan kami pun menelusuri situ dan mengelilinggi Nusa kecil
disana. Banyak orang bilang disana terdapat Batu Cinta, konon katanya batu
tersebut merupakan lambang pertemuan antara pangeran dan putri yang saling
mencintai, mereka bertemu di Batu Cinta itu, dan ketika kita menuju batu
tersebut tenyata benar Batu itu melambangkan cinta, dengan kesempatan yang ada
kami pun berphoto disana.
Setelah 2 jam di Situ
Patenggang, cuaca sudah tak bersahabat, awan hitam mulai menyelimuti daerah
ini, akhirnya kami memutuskan untuk pulang, lagian tak baik terlalu sore
ditempat seperti ini. Diperjalanan pulang dengan guyuran hujan yang telah
mengguyur didaerah tersebut, kami melihat pedagang jagung bakar disana, hemmm….
rasanya enak tuh, apalagi dengan cuaca diluar hujan, makan jagung bakar pasti
maknyos! Ujarku dalam hati, aku terus melirik kesebelah kiriku, tak sadar mobil
yang ku tumpangi tiba-tiba berhenti dan mendekat ke pedagang jagung.
"Laah.. kok berhenti ?"
"Aku tahu kok, kamu pasti
ingin jagung bakar itukan sayang ?" tebaknya,
bisa saja dia menebak apa yang ada dipikiranku saat ini
"Kok tau yang ?"
"Yaiyalah, dari tadi kamu
lihat kekiri mulu, kaya yang udah gak tahan pengen makan tuh jagung"
pantes saja, ternyata aku tak bisa membohongi diriku sendiri hihi.
"hahaha, kamu bisa aja,
yaudah yuk!!" Kami pun memesan jagung bakar itu. Jagung bakar telah siap
Kamipun memakan jagung bakar
itu, rasanya memang maknyoos, apalagi disaat hujan seperti ini, perut ikut
hangat. Bahkan hatiku pun ikut menghangat karena berada di dekatnya. Setelah
memakan jagung, kamipun melanjutkan kembali perjalanan pulang kami. Mungkin
karena cape dan lelah juga kenyang efek makan jagung bakar, aku pun ketiduran.
Rasanya bibirku seperti ada
sentuhan hangat, ketika ku buka mataku ternyata benar, Raffi menempelkan
bibirnya ke bibirku. Lalu melepaskannya
"Bangun sayang, sudah
sampai nih depan kostan kamu" Akupun menggeliat, saking nyenyaknya tidur,
tak terasa sudah sampai lagi. "Sudah sampai ya yang" Sambil mengucek
ngucek mataku.
"Iyaa sayang"
"Ya udah, aku turun yaa,
makasih untuk hari ini" sebelum turun membuka pintu mobil aku langsung mengecup
singkat pipi Raffi tanda terimakasih.Ketika aku mau membuka pintu mobil,
tanganku ditahan olehnya.
"Tunggu, key"
"Ada apa lagi sayang
?"
"Ada sesuatu yang aku
bicarakan"
"Apa sayang ? Ngomong aja
" dengan ulasan senyum dariku
"Apa benar kau mencintaiku
?"Pertanyaan apa itu ? Yaa jelaslah aku mencintaimu.
"Kamu kok ngomong gitu,
yaa jelaslah aku mencintaimu, jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku
sudah merasa nyaman didekatmu. Rasanya kamu adalah obat terindah yang diberikan
oleh Tuhan untukku. Dan aku takkan menyianyiakanmu. Aku tulus mencintaimu, aku
tak mau kehilanganmu Raffi" jujurku, aku pun langsung memeluknya.
"Tapi tidak denganku
key"
"Apa maksudmu" aku
langsung melepaskan pelukannya "Kamu, tidak bercanda kan ffi ? Kamu hanya
bergurau kan ? Kamu mencintaiku kan " lanjutku sambil mengoyang-goyangkan
tubuh Raffi untuk meyakinkannya. Namun Raffi hanya bisa menggeleng.
Tak terasa, butiran sedikit
butiran air dimataku mulai jatuh.
"Maaf key, dulu aku memang
mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi maaf, aku gak tau kenapa. Rasanya mungkin
aku lebih baik sendiri dulu, maaf key bukan maksudku untuk menyakitimu"
Air mataku semakin banyak mengalir, tak kuasa lagi untuk menahan. Hatiku begitu
sakit saat mendengar ucapan demi ucapan yg dia lontarkan, rasanya bagaikan
dihantam pedang yang begitu tajam menusuk jantungku.
"Tapi ffi, tak bisakah
kita tetap bertahan ? Memperjuangkan cinta kita. Aku mencintaimu fi, aku mulai
nyaman didekatmu" air mataku terus bercucuran tak ada hentinya.
"Maaf key, maaf. Aku tak
bisa" tolak Raffi, dia langsung keluar, lalu menuju kearah pintu dekatku
dan membukakan pintu mobilnya untukku
"Sekarang kamu boleh
keluar, lalu masuk ke kostan mu dan beristirahatlah, ini sudah malam"
ujarnya terhadapku Aku kaget. Dia mengusirku secara perlahan. Aku pun langsung
keluar
"Lelaki kurang ajar"
aku langsung menamparnya penuh dengan emosi
"Mengapa kau tega
melakukan ini, kau putuskanku tanpa alasan yang jelas. Apa maumu sebenarnya ?
Terus selama ini yang kita jalani ? Kau yg memelukku, memegang tanganku,
menciumku. Itu apa Raffi ? Apa itu hanya pura-pura saja ?" emosiku mulai
memuncak
"Tega dirimu kau lakukan
itu padaku, jadi tiga hari ini apa ? Yang diperjuangkan selama ini apa? Cinta
palsu ? Dimana letak hatimu sebenarnya ? Dimana perasaanmu? Mengapa kau tega
melakukan ini padaku. Mana janjimu selama ini yang tulus mencintaiku ? Yang
setia terhadapku ? Mana ? Kau bohong. Kau sama saja dengan lelaki lain. Bahkan
kau lebih kejam dari semua lelaki yang pernah ada didekatku"
"Kau memang pengkhianat,
kau hempaskanku begitu saja, kau tinggalkan aku begitu saja, kau siasiakan
perasaanku. Denga mudahnya kau berkata seperti itu. Salah fi salah, aku telah
salah memilihmu"isakanku semakin menjadi, ini adalah kesekian kalinya aku
disakitin karena cinta.
Raffi hanya bisa diam saja, tak
mengelak sedikit pun "Maaf, key" hanya itu yang bisa dia lontarkan,
lalu dia masuk ke mobilnya dan meninggalkanku begitu saja.
