Laman

Jumat, 14 Februari 2014

Tragedi Cinta di Januari


Sudah setahun ini aku menyendiri, setelah dia meninggalkanku. Bara. Namanya adalah Bara. Orang yang telah menyianyiakan perasaanku yang mengkhianati cintaku demi wanita lagi. Padahal saat itu aku sedang cinta cintanya, tapi dia tega meninggalkanku. Entah apa maunya. Aku sadar aku memang tak sempurna, Aku tahu aku hanya gadis sederhana, tapi dia yang begitu membuatku terpesona, yang membuatku begitu sempurna dia dimataku. Saat dia menyatakan cinta kepadaku dengan gentlenya, aku tak sia-siakan kesempatan itu. Tanpa pikir panjang, aku menerimanya.

Dulu ku pikir dia berbeda dengan lelaki lain, ku pikir dia memang benar-benar mencintaiku dengan tulus, ku pikir dia setia. Tapi pikirku salah, dia pembohong besar, Bara hanya berpura-pura mencintaiku. Dia main wanita dibelakangku. Ternyata dia mengkhianati cintaku. Sakit sekali disaat dia memutuskan untuk meninggalkanku hanya karena wanita lain. Hingga saat ini pintu hatiku masih sulit dibuka untuk orang lain. Mungkin karena terlalu takut untuk jatuh cinta lagi. Takut disakiti yang kedua kali lagi. Karena mungkin itu resikonya. Jika kita ingin jatuh cinta harus siap pula untuk patah hati. Jika kita sayang kepada seseorang harus siap juga untuk ditinggalkan.

Tapi belakangan ini, ada seorang temanku. Dia mulai mendekatiku. Awalnya kita dekat hanya sekedar menanyakan tugas tugas kuliah, tapi akhir-akhir ini obrolan kita menjadi sedikit intens. Namanya Raffi. Dia menjadi lebih perhatian terhadapku. Baik lewat pesan singkat atau tatap muka sekalipun. Apalagi dia adalah teman sekelasku dikampus.

*Kring.. Kring...* Blackberry ku berbunyi, tanda BBM masuk. Ternyata bbm dari Raffi.

Raffi : Key, Kita nonton yuk!!

Raffi ngajak nonton bareng. Memang dari dulu dia sering ngajak nonton, tapi tak pernah ku gubris, aku selalu bilang iya iya aja, namun tak jadi jadi. Karena kasihan, akhirnya aku berniat untuk sekarang menerima ajakan dia.

Aku : Oke! Kapan ?

Raffi : Malam minggu ini. Gmna ?

Aku : Sip

Sabtu malam di akhir Desember 2013.

*Tok…tok….tok* Pintu Kostanku diketuk. 

"Siapa ?" tanyaku, sambil melirik cermin sekali lagi kalau aku sudah rapih dan siap untuk berangkat.

"Raffi" Pintu pun ku buka, kulirik kiri kanan, ternyata hanya Raffi saja yang ada didepanku.

"Yang lainnya mana ?" Tanya ku

"Kita cuma nonton berdua kok key, gak apa-apa kan ?" Lah, pikirku dia ngajak yang lain, ternyata tidak. Kita hanya akan menonton berdua dan itu membuat ku heran. Tak jarang, Raffi ngajak nonton hanya berdua saja, dan itu dengan ku, di malam minggu pula.

"Oh.. gak apa-apa kok. Yuk berangkat" ajakku. Kita berjalan menuju Mall terdekat sekitar Kampusku. Karena jaraknya cukup dekat, dengan menempuh hanya 5 menit saja sudah sampai.

Tiba di tempat penjualan tiket cinema 21.

"Key, mau nonton apa nih ?"

"Gimana kamu aja, kan kamu yang ngajak" Dia menimbang-nimbang dan melihat layar yang ada dibelakang kasir tiket yaitu daftar judul-judul film yang ditayangkan.

"kita nonton Kapal Van Der Wijck aja yuk!!"

"Oke, film itu aja, kayanya menarik"

"Mba, tiket Kapal Van Der Wijck dua" ucapnya kepada kasir itu

"Semuanya Tujuh Puluh Ribu Rupiah mas" Katanya sambil menyerahkan tiket. Ketika aku hendak mengeluarkan dompet. Dia bilang "Gak usah, dari aku ajah"

"Thank’s fi " ucapku

Kita pun masuk ke Studio 1 tempat film itu akan kita tonton. Kita duduk di kursi bagian C jajaran ke 3 dari belakang. Tak lama film itu pun di mulai.

Pada saat dipertengahan film. Tiba tiba saja, tangan Raffi memegang tanganku, sontak aku kaget. Tak biasanya dia melalukan hal itu. Lalu pas aku nengok ke wajahnya, dia membalas tengokanku lalu tersenyum, entah kenapa aku menerima saja genggaman itu, aku tak mengelaknya karena rasanya itu membuatku nyaman. 

Mungkin sudah lama rasanya aku tak merasakan genggaman dari seorang lelaki. Jujur saja, itu teringatkanku kepada Bara, saat kita masih pacaran saat dia selalu melindungiku dengan tangan besarnya lewat genggaman tangannya terhadap tanganku, tapi itu dulu.

Setelah hampir dua jam setengah, film itupun selesai. Lumayan, membuat badan itu pegal karena kelamaan duduk. Dengan sadar tangannya pun dilepaskannya. Dan berkata “maaf” . Baru bilang maaf setelah hampir satu jam dia pegang tanganku. 
Tapi aku tak mengelak, ku balas dengan senyum saja.

Akhirnya kita keluar dari studio tersebut. Ku lirik jam tanganku ternyata jarum jam menunjukan jam sembilan lebih tiga puluh menit, dan itu bagiku sudah malam.  Dan pintu gerbang kostan ku ditutup jam sepuluh malam. Kita jalan kaki menuju kostan masing-masing.

"Fi, makasih yaaa. Aku masuk dulu…" ucapku ketika sudah tiba di depan kostanku

"Iyaa, makasih juga key, aku pulang yaa…" pamitnya

"Iyaa, hati-hati" kataku, akupun langsung masuk menuju kamarku.

31 Desember 2014

Terpaksa aku harus menjalani malam tahun baru ini dikostan, tidak dirumah dengan keluargaku. Semua ini karena UAS di kampusku belum selesai. Entah aku harus menjalani malam tahun baru dengan siapa, sedangkan teman-temanku pergi bersama kekasih mereka masing-masing untuk menikmati malam tahun baru yang indah bagi mereka. Tapi tidak untukku, bagiku mungkin malam nanti akan terlihat flat, tidak special, biasa aja.

Siang ini, aku pergi ke mini market terdekat untuk membeli sedikit cemilan buat malam nanti, karena aku sudah merencanakan malam ini akan diam dikostan menikmati siaran televisi indonesia sambil ngemil, bagiku itu tidak akan buruk.

Tiba di mini market, aku membeli beberapa cemilan. Setelah itu, aku pun pulang menuju kostanku sambil menenteng makanan yang barusan aku beli.
Ketika diperjalanan menuju kostan, “Key….” serasa ada yang memanggil namaku, entah siapa.

"Key…. Tunggu!!" Ku tengok ke belakang, ternyata benar ada yang memanggilku. Dia Raffi. Dia berlari-lari menuju kearahku, sampai akhirnya.

"Iyaaa, ada apa fi ?"

"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu key" Katanya dengan ngos-ngosan mungkin efek berlarian.

"Yaaa.. bicara aja kali fi, biasanya juga suka langsung ngomong" ceplosku 

"Tapi, tidak disini key"

"yaa,. terus dimana ?"

"Nanti malem kamu ada acara ga ? " Key pun berpikir sejenak, dan menimbaang- nimbang.

"Sepertinya tidak ada. Kenapa emang?"

"Kalau enggak ada, aku ingin ngajak kamu jalan-jalan key, kita ketemu jam 9 malem di taman kota yaa. Ditunggu!!, bye!" Raffi pun langsung pergi meninggalkanku, padahal aku belum juga ngasih persetujuan kepadanya. Tapi dipikir-pikir ada benarnya juga, aku memang tak ada acara malam itu, lagian malam ini malam tahun baru, bagiku itu menarik jalan bareng Raffi, ya walaupun hanya sama Raffi, tapi bagiku itu sudah cukup membuatku bahagia untuk tahun baru kali ini.

Aku pun langsung menuju kostan. Tak ada kerjaan selain menonton televisi, sambil menunggu jam 9 malam. Tapi aku heran lagi, akhir-akhir ini Raffi sering sekali ngajak jalan bareng. Terlebih sekarang, dia sering bbman sama aku, dan bbman pun bukan bbman biasa, dia jadi sedikit perhatian, sering ngingetin aku makan, mandi, beribadah, segalanya, yaa seperti Bara dulu yang sering memperhatikanku seperti itu. Tapi sayangnya, aku tak terlalu menggubris balasan dari Raffi, aku selalu jawab seadanya saja, tak seperti sama Bara dulu, jika ada bbm dari dia pasti aku balas dan selalu ku gubris dengan senang hati. 

Namun, jujur saja sih, akhir-akhir ini akupun jadi sedikit nyaman ada didekat Raffi, mungkin karena perlakuan dia terhadapku yang terlalu berlebih. Memang aku terlihat biasa saja perlakuanku terhadap dia, tapi jika aku didekatnya rasanya begitu nyaman, apalagi kejadian dulu ketika kita nonton, dia pegang tanganku begitu hangat, anehnya aku tak menolaknya, mungkin itu, aku merasa nyaman didekatnya.

Pukul 21.50 di Taman Kota

Aku menggunakan kaos oblong warna merah dan celana jeans biru dongker panjang menggunakan tas selendang kecil berwarna hitam. Dan aku lupa tidak memakai jaket karena aku tadi terlalu buru-buru gara-gara tadi ketiduran dikostan. Dilirik jam tanganku sudah pukul 21.50, aku ngaret hampir satu jam, pasti Raffi sudah menungguku sangat lama. Kulihat kiri kanan mencari Raffi. Disana ada sesosok laki-laki menggunakan jaket coklat dengan celana jeans hitam panjang dan sepatu kest warna hitam pula sedang duduk dikursi besi panjang yang memunggungiku, ku lihat-lihat rasanya aku kenal, lalu aku menghampirinya.

Pikirku benar, sesosok lelaki itu ternyata Raffi, akupun menghampirinya lalu dia pun melihat kearahku, sambil menyunggingkan senyum diwajahnya, dia cukup menarik malam ini meskipun dia memiliki kulit sawo matang sama sepertiku tapi dia memiliki hidung yang bangir seperti orang arab. Jujur saja aku suka penampilannya malam ini, dia terlihat tampan. Lah kok, aku jadi sedetail ini memperhatikannya.

"Hey… Key.. kok bengong ?"

"Haah, apa fi ?" kaget ku, lah sedetail ini aku memperhatikannya dari tadi, hingga aku tak sadar dia berbicara padaku

"huh hah heh heh, udah yuk!! kita ke sana beli kembang api" ajaknya , sambil menarik tanganku, aku kaget dia memegang tanganku yang kedua kalinya dengan begitu hangat, lalu menuju tukang kembang api yang di tunjung Raffi tadi. Aku pun mengikutinya, dia tetap saja memenggang tanganku. Setelah membeli kembang api, kita pun duduk dikursi besi yang tadi diduduki Raffi pas kita ketemu.

"Fi, maaf yaa aku ngaret tadi, habis aku tadi ketiduran, maaf yaa" Jujurku, aku minta maaf kedia karena aku memang salah.

"Iya gak apa-apa kok key, kamu udah datang pun aku seneng banget, makasih yaa udah datang"

"lah kok bilang makasih, aku yang salah gara-gara aku telat"

"ya sudah, tunggu bentar yaa aku mau kesana dulu, kamu tunggu disini yaa, awas jangan kemana-mana" aku mau tanya kedia mau kemana, dia langsung ngeleos aja. hem! kebiasaan dia seperti itu. Akhirnya aku pun nunggu dia, sambil melihat orang-orang disana dengan bahagianya memainkan kembang api, meniup terompet, juga tukang jajanan yang begitu ramai oleh para pengunjung disini, tak hanya itu hiruk pikuk kendaraan yang mulai memadati taman kota ini. Ini kali pertama aku keluar malam, ditaman kota yang begitu banyak orang. Awalnya aku tak suka dengan kegaduhan-kegaduhan disekitar sini yang begitu berisik, terlebih banyak orang yang berdua-duaan bersama kekasihnya, yang membuatku sedikit envy, mungkin mereka akan menikmati malam tahun baru ini begitu indah, ya pikir mereka. Karena ajakan Raffi kesini, akupun mau. Tak lama Raffi pun datang, dengan menenteng permen kapas berwarna pink.

"Taraaaaaaat, nih buat kamu" Raffi memberikan permen kapas itu untukku, dan aku pun menerimanya.

"aaah makasih banyak Raffi, kok tau sih aku suka permen kapas"

"dan ini satu lagi, taraaaaaat" dia mengeluarkan permen cha-cha kesukaanku dari saku celananya.

"Raffiiiiii, kamu baik banget. makasih yaaa" dengan refleks aku memeluknya saking senangnya.

"Eh maaf" ucapku, sambil melepaskan pelukan itu. Entah kenapa dia begitu baik terhadapku, bahkan permen favoriteku saja dia belikan untukku. 

Akhirnya aku dan Raffi pun menikmati malam ini, kita bermain kembang api sambil memakan permen kapas yang dikasih oleh Raffi. Aku berteriak meneriakkan kembang api itu, rasanya aku begitu senang malam ini, ini sangat special, baru merasakan lagi kebahagiaku ini, setelah setahun aku diselimuti rasa galau karena Bara, namun dengan kedatangan Raffi kedalam kehidupanku itu membuat hidupku lebih berwarna lagi, dia membuatku tersenyum seperti ini.

Semakin malam semakin dingin, gara-gara aku tak membawa jaket akupun kedinginan apalagi dengan pakaianku yang hanya memakai kaos oblong. akupun lalu duduk dikursi besi panjang itu, sambil menelengkup kedua tanganku. Raffi melihatku seperti kedinginan, dia pun menghampiriku.

"Key..." sahutnya, aku hanya bergumam saja

"Kamu kedinginan yaa ?"

"Hehe, iyaa, tadi lupa ga bawa  jaket" Jujurku. Raffi segera membuka jaket coklatnya, lalu memberikan jaket itu kepadaku

"Ya udah, pake saja jaketku"

"jangan" tolakku, "Nanti kamu kedinginan" lanjutku

"Enggaklah key, aku kan cowok aku masih kuat kok, lagian bajuku juga berlengan panjang, pake yaaa" paksanya, akhirnya aku pakai jaketnya. Kenapa dia begitu perhatian terhadapku, begitu peduli, dan anehnya aku selalu luluh dibuatnya. Raffi....

"Makasih" ucapku dengan senyum simpulku. Terimakasih Raffi, kau buat malam ini begitu indah dan berwarna, ucapku dalam hati.

23.57

Tak terasa 2 jam berlalu, kita bersenang-senang menikmati malam ini, ini saatnya dimana malam pergantian tahun baru benar-benar dimulai. Orang-orang sekitar telah siap-siap menyaksikan kembang api terbesar di taman kota ini dalam hitungan detik. Pergantian tahun akan segera dimulai tiga menit lagi.

Tapi dibalik itu Raffi menarik tanganku, dia menggenggam erat tanganku. Deg.. hatiku, kenapa hatiku berguncang hebat ketika dia menggenggam tanganku. Padahal kemarin-kemarin aku biasa aja, lain halnya dengan sekarang, itu terasa lebih hangat.

"Keysa, kau tahu mengapa aku mengajak kamu kesini ". Aku hanya bisa menggeleng,dan menunduk kepalaku, aku tak kuat membalas tatapannya yang begitu intens, lalu tangan besarnya berpindah kewajahku dan mengangkat wajahku, agar aku bisa melihat wajahnya dan matanya.

"Ada yang ingin aku bicarakan sama kamu" tangannya menyelusuri rambutku.

"Jujur saja key, dari dulu sejak aku tahu kamu berpacaran dengan Bara, aku menyukaimu" Mataku melotot, dengan kagetnya. Hatiku semakin tak karuan.

"Ketika kau putus bersama Bara, aku senang sekali, disana aku berpikir aku bisa mendekatimu, namun sayang selama setahun ini kamu tak bisa melupakan Bara, kau terus mengaisi masalalu mu dengan Bara, sedangkan kau tak pernah sadar, ada aku yang akan menyembuhkan luka dihatimu" 

"aku terus berusaha untuk mendapatkan hatimu, dan sekarang. Aku senang, akhir-akhir ini kau selalu menerima ajakkanku, mungkin ini waktu yang lebih tepat bagiku untuk mengataknnya"

"selama setahun aku menunggumu, disini di tempat ini, atas nama bumi dan langit juga seisinya, dan riakan-riakan kembang api yang bermunculan menjadi saksi malam ini"

"Aku menyatakan, bahwa Aku Mencintaimu Keysa" Sontak hatiku rasanya bergemuruh seperti kembang api, rasaku bercampur aduk, senang, bahagia, sedih juga ragu segalanya bercampur menjadi satu. Tapi aku tak bisa berkata apa-apa, mulutku rasanya bungkam untuk bicara sepatah dua patah kata pun, sulit rasanya. Ternyata selama ini dia mencintaiku. 

Dia mendongkakkan wajahnya hingga sejajar denganku, aku semakin deg-degan dengan reaksinya yang seperti itu, wajahku dengannya semakin dekat hingga beberapa sentimeter saja, nafasnya mulai terasa, hidung kami pun semakin mendekat. Bibir kami pun akhirnya saling bersentuhan, aku tak menolaknya, bahkan aku menerima sentuhan bibirnya.

*Tiga….. Dua…. Satu*  *Duaaaaaaaaaar* Ledakan kembang api besar pun mewarnai seluruh taman kota, sorak sorai orang-orang dan tiupan terompet ikut memeriahkan malam tahun baru. Aku pun langsung melepaskan ciuman itu, ciuman itu pertanda bahwa aku menerimanya cintanya. Kita akhirnya menjadi sepasang kekasih di Tahun Baru ini, sungguh bagiku ini adalah kado yang paling mengejutkan di Januari ini.

"Terimakasih Key, aku janji aku akan menjadi laki-laki yang setia, aku akan selalu menjagamu sampai kapanpun, aku benar-benar mencintamu key" Langsung dia memeluku begitu hangat, pelukan itu begitu tulus, aku pun membalas pelukannya.

Terimakasih Tuhan, kau telah memberikanku lelaki yang begitu tulus menyayangiku, aku percaya janjimu Tuhan. Benar, ini adalah obat yang diberikan olehMu selama aku terus bersabar menghadapi cobaan yang aku derita setahun yang lalu, ini adalah obat yang terindah selama hidupku, obat itu adalah kamu Raffi.

3 Januari 2014

Akhirnya UAS terakhir pun selesai, dulu sebelum aku jadian sama Raffi, rencanaku akan pulang ke Jakarta setelah UAS, tapi rencanaku diundur saja, karena Raffi mengajak jalan-jalan kesuatu daerah pegunungan di daerah Bandung Selatan yaitu didaerah Ciwidey. Karena UAS beres jam 10, akhirnya kami pun langsung pergi menuju daerah yang akan kami kunjungi Kawah Putih, dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Raffi.

Pukul 12 siang akhirnya kami sampai di Kawah Putih, Ciwidey. Meskipun tengah siang begini, cuaca disana tetap dingin, aku dan Raffi menggunakan jaket yang tebal. Disini kami berphoto bersama, menikmati kawah berwarna hijau tosca yang mengepulkan asap dan bau belerangnya. Walaupun diluar begitu dingin, tapi tidak dengan hatiku, hatiku begitu hangat berada didekatnya.

Aku sekarang mulai membuka pintu hati untuk Raffi, karena akan percuma jika aku terus mengaisi masalaluku, sedangkan disini ada Raffi yang begitu tulus mencintaiku, aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan ini. Selama 3 hari setelah kita jadian aku berusaha menerima Raffi, dan benar aku bisa, sekarang aku mulai mencintainya, menyayanginya. Beruntung sekali aku bida memilikinya, dia yang begitu tulus mencintaiku. Aku mencoba bertahan untuknya, bagiku dia lelaki yang berbeda, dia sesosok pria yang setia, yang akan menjaga wanita yang dicintainya, yaitu aku. Kami bersenang-senang disini, bercanda tawa gembira. Tak ada lagi kecanggungan-kecanggungan Raffi semenjak kita pacaran, dia selalu jujur apa adanya terhadapku begitupun sebaliknya.

Setelah menikmati alam bebas di Kawah Putih, kami pun menuju Situ Patenggang, tiba disana, hawa dingin pun masih menyelimuti meskipun sekarang sudah siang sekitar pukul 2 siang, tapi tetap terasa dingin. Disini kita menyewa Sepeda Air, kami menaik benda seperti bebek itu dan kami pun menelusuri situ dan mengelilinggi Nusa kecil disana. Banyak orang bilang disana terdapat Batu Cinta, konon katanya batu tersebut merupakan lambang pertemuan antara pangeran dan putri yang saling mencintai, mereka bertemu di Batu Cinta itu, dan ketika kita menuju batu tersebut tenyata benar Batu itu melambangkan cinta, dengan kesempatan yang ada kami pun berphoto disana.

Setelah 2 jam di Situ Patenggang, cuaca sudah tak bersahabat, awan hitam mulai menyelimuti daerah ini, akhirnya kami memutuskan untuk pulang, lagian tak baik terlalu sore ditempat seperti ini. Diperjalanan pulang dengan guyuran hujan yang telah mengguyur didaerah tersebut, kami melihat pedagang jagung bakar disana, hemmm…. rasanya enak tuh, apalagi dengan cuaca diluar hujan, makan jagung bakar pasti maknyos! Ujarku dalam hati, aku terus melirik kesebelah kiriku, tak sadar mobil yang ku tumpangi tiba-tiba berhenti dan mendekat ke pedagang jagung.

"Laah.. kok berhenti ?"

"Aku tahu kok, kamu pasti ingin jagung bakar itukan sayang ?" tebaknya, bisa saja dia menebak apa yang ada dipikiranku saat ini

"Kok tau yang ?"

"Yaiyalah, dari tadi kamu lihat kekiri mulu, kaya yang udah gak tahan pengen makan tuh jagung" pantes saja, ternyata aku tak bisa membohongi diriku sendiri hihi.

"hahaha, kamu bisa aja, yaudah yuk!!" Kami pun memesan jagung bakar itu. Jagung bakar telah siap
Kamipun memakan jagung bakar itu, rasanya memang maknyoos, apalagi disaat hujan seperti ini, perut ikut hangat. Bahkan hatiku pun ikut menghangat karena berada di dekatnya. Setelah memakan jagung, kamipun melanjutkan kembali perjalanan pulang kami. Mungkin karena cape dan lelah juga kenyang efek makan jagung bakar, aku pun ketiduran.

Rasanya bibirku seperti ada sentuhan hangat, ketika ku buka mataku ternyata benar, Raffi menempelkan bibirnya ke bibirku. Lalu melepaskannya

"Bangun sayang, sudah sampai nih depan kostan kamu" Akupun menggeliat, saking nyenyaknya tidur, tak terasa sudah sampai lagi. "Sudah sampai ya yang" Sambil mengucek ngucek mataku.

"Iyaa sayang"

"Ya udah, aku turun yaa, makasih untuk hari ini" sebelum turun membuka pintu mobil aku langsung mengecup singkat pipi Raffi tanda terimakasih.Ketika aku mau membuka pintu mobil, tanganku ditahan olehnya.

"Tunggu, key"

"Ada apa lagi sayang ?"

"Ada sesuatu yang aku bicarakan"

"Apa sayang ? Ngomong aja " dengan ulasan senyum dariku

"Apa benar kau mencintaiku ?"Pertanyaan apa itu ? Yaa jelaslah aku mencintaimu.

"Kamu kok ngomong gitu, yaa jelaslah aku mencintaimu, jujur dari lubuk hatiku yang paling dalam. Aku sudah merasa nyaman didekatmu. Rasanya kamu adalah obat terindah yang diberikan oleh Tuhan untukku. Dan aku takkan menyianyiakanmu. Aku tulus mencintaimu, aku tak mau kehilanganmu Raffi" jujurku, aku pun langsung memeluknya.

"Tapi tidak denganku key"

"Apa maksudmu" aku langsung melepaskan pelukannya "Kamu, tidak bercanda kan ffi ? Kamu hanya bergurau kan ? Kamu mencintaiku kan " lanjutku sambil mengoyang-goyangkan tubuh Raffi untuk meyakinkannya. Namun Raffi hanya bisa menggeleng.
Tak terasa, butiran sedikit butiran air dimataku mulai jatuh.

"Maaf key, dulu aku memang mencintaimu, sangat mencintaimu. Tapi maaf, aku gak tau kenapa. Rasanya mungkin aku lebih baik sendiri dulu, maaf key bukan maksudku untuk menyakitimu" Air mataku semakin banyak mengalir, tak kuasa lagi untuk menahan. Hatiku begitu sakit saat mendengar ucapan demi ucapan yg dia lontarkan, rasanya bagaikan dihantam pedang yang begitu tajam menusuk jantungku.

"Tapi ffi, tak bisakah kita tetap bertahan ? Memperjuangkan cinta kita. Aku mencintaimu fi, aku mulai nyaman didekatmu" air mataku terus bercucuran tak ada hentinya.

"Maaf key, maaf. Aku tak bisa" tolak Raffi, dia langsung keluar, lalu menuju kearah pintu dekatku dan membukakan pintu mobilnya untukku

"Sekarang kamu boleh keluar, lalu masuk ke kostan mu dan beristirahatlah, ini sudah malam" ujarnya terhadapku Aku kaget. Dia mengusirku secara perlahan. Aku pun langsung keluar

"Lelaki kurang ajar" aku langsung menamparnya penuh dengan emosi

"Mengapa kau tega melakukan ini, kau putuskanku tanpa alasan yang jelas. Apa maumu sebenarnya ? Terus selama ini yang kita jalani ? Kau yg memelukku, memegang tanganku, menciumku. Itu apa Raffi ? Apa itu hanya pura-pura saja ?" emosiku mulai memuncak

"Tega dirimu kau lakukan itu padaku, jadi tiga hari ini apa ? Yang diperjuangkan selama ini apa? Cinta palsu ? Dimana letak hatimu sebenarnya ? Dimana perasaanmu? Mengapa kau tega melakukan ini padaku. Mana janjimu selama ini yang tulus mencintaiku ? Yang setia terhadapku ? Mana ? Kau bohong. Kau sama saja dengan lelaki lain. Bahkan kau lebih kejam dari semua lelaki yang pernah ada didekatku"

"Kau memang pengkhianat, kau hempaskanku begitu saja, kau tinggalkan aku begitu saja, kau siasiakan perasaanku. Denga mudahnya kau berkata seperti itu. Salah fi salah, aku telah salah memilihmu"isakanku semakin menjadi, ini adalah kesekian kalinya aku disakitin karena cinta.
Raffi hanya bisa diam saja, tak mengelak sedikit pun "Maaf, key" hanya itu yang bisa dia lontarkan, lalu dia masuk ke mobilnya dan meninggalkanku begitu saja.

Minggu, 09 Februari 2014

Kau Datang Lagi

Lagi lagi kamu
Kenapa kau datang lagi dan lagi
Tak puaskah dulu kau menyakitku?
Mana mungkin aku kembali lagi padamu
Aku takkan mau jatuh kedalam lubang yg sama
Kau tahu pintu hatiku takkan ku buka lagi untukmu
Tak mau aku tergoda terjerumus lagi oleh cintamu

Meski sekarang kau mencoba mengejarku
Tuk mendapatkan hatiku lagi
Risih memang kau terus dan terus
Mencoba menghubungiku
Mencoba mendapatkan cinta
Mencoba tuk kembali padaku lagi

Tapi tidak untukku
Aku takkan mau kembali lagi kepadamu
Setelah dulu kau campakkanku
Kau duakan cintaku
Aku takkan kembali untukmu

Maaf saja, aku sudah melupakanmu sejak lama
Aku tak mau jatuh sakit yg kedua kalinya lagi
Maaf………

Sabtu, 01 Februari 2014

Lelah dengan Cinta

Mengapa aku selalu dijadikanmu pelampiasan ?
Apa aku memang pantas seperti itu?
Mengapa dulu kau tak perlakukan aku layaknya pacarmu sekarang?

Yang selalu kau specialkan,
Yang selalu kau pasang display picture nya di blackberrymu
Yang selalu kau di jadikan status di personal statusmu
Mengapa dulu aku tidak ?
Apa kekuranganku ?
Ataukah aku hanya cinta sesaat untukmu ?

Mengapa kau begitu mudah mendapatkan cinta yang lain
Sedangkan diriku sendiri masih memikirkanmu
Salah jika aku masih cemburu ?
Sulit jika ku ingin melupakanmu

Tuhan jika kau berkenan
Matikan rasa ini….
Aku lelah jika perasaanku selalu dijadikan pelampiasan orang orang saja.
Lebih aku tak punya rasa saja.
Jika hal itu membuatku tenang.