Sejak mengenalmu aku menjadi buta kata, sudah tak tertampung kata-kata yang harus ku jelaskan tentangmu. Mungkin tak bisa ku jelaskan lagi kebahagiaanku bersamamu.
Awan menampakkan keceriaannya, langit menyambut cinta kita dengan cahaya mataharinya.
Namun suguhan rindu tetap saja mengalir deras bak sungai. Tak pernah berhenti mengalir, sedalam apapun rindu yang ku tahan. Jarak terus mengolok-olokan kita.
Tapi kamu salah jarak, karenamu aku bisa merasakan rindu kepadanya. Walau cobaan demi cobaan selalu menghampiriku, seperti air yang mengalir terhalang batu karang. Aku tak mudah menyerah begitu saja. Aku tetap kuat mendorong segala masalah bagai karang yang cepat musnah ditelan derasan air rindu yang mengalir.
Kau tau, kebahagiaanku akan selalu datang. Kita masih punya waktu untuk bertemu, karena kerinduan air selalu mengalir dan memiliki tujuan untuk berakhir di samudera. Begitupun aku, yang memiliki waktu bertemu mengobat rindu bersamamu.
Tapi setelah kerinduan air mencapai samudera, kelak air akan menguap bersama awan, dan disana kesetiaanku membuktikan, bahwa awan selalu setia menunggu air yang akan menjadikannya hujan.
Awan tidak akan pernah pergi, meski dia selalu di tinggalkan oleh hujan, tapi dia selalu yakin hujan kelak kembali. Akupun demikian. Walau kau pergi tapi yakin kelak kau pasti akan kembali, kerumahmu, disini, dihatiku.
-AWV-