Laman

Jumat, 11 April 2014

Apalah Arti Cinta

Bukan, pertemuan ini bukan kebetulan semata. Ini takdir, takdir yang direncanakan Tuhan. Merencanakan pertemuan kita.

Awalnya, ini hanya perasaan kagum semata karena ketika dulu aku masih terikat bersama laki-laki lain. Namun pikirku salah, setelah kesendirianku tiba dan aku hampir pernah tak mau kenal yang namanya ‘cinta’, kau datang. Dari seringnya mengirim pesan singkat yang sekedar menanyakan tugas dan nilai-nilai ipk, hingga percakapan yang begitu intens, bisa dibilang ini lebih istimewa.

Berawal dari kata ‘peduli’ buatku merasa ini lebih dari sekedar kagum, yah aku mulai menyukaimu. Dan tak bisa ku bayangkan kau pun merasakan hal yang sama. Semua berjalan seperti biasa, aku tebiasa dengan kehadiranmu, sosokmu yang selalu ada untukku. Keterbiasaan kita yang sering bercakap lewat pisan singkat yang semakin intens. Aku terlalu menikmati kenyamanan ini. Hingga rasaku mulai berubah, tak hanya sekedar suka semata tapi juga ‘sayang’.

Entah mengapa hal ini bisa terjadi, semua berawal seiring berjalannya waktu. Aku mulai takut kehilanganmu. Terlebih percakapan kita sekarang melebihi percakapan biasa. Kau tahu aku merasa banyak kesamaan antara aku dan kamu, dimulai dari nasib kita masuk keperguruan tinggi yang mungkin masih setengah hati hingga kesamaan tentang kisah cinta. Aku dan kamu sama-sama pernah mengalami kandasnya percintaan, namun alasan kita berbeda. Aku diputusin oleh masalaluku, sedangkan kamu, kamu yang memutuskannya terlebih dulu bersama masalalumu, tapi sama-sama mengakhiri cintanya.

Aku dan kamu sering bertukar cerita, dimulai dari tentang pendidikan hingga cinta. Dari sana aku mulai mengenal sosokmu, ternyata sosokmu begitu indah dimataku, kau membuatku semakin terpesona. Ternyata kamu adalah sosok lelaki idamanku. Kau lelaki yang bertanggung jawab, pintar, perhatian dan mengerti perasaan wanita, bahkan kau adalah sosok lelaki yang sejatinya sangat menurut perintah orang tua, tak jarang lelaki sesosokmu seperti itu, aku bangga sangat bangga berada dekat denganmu.

Tak hanya itu kau adalah penyemangat belajarku, ketika aku hampir terpuruk dan frustasi karena semangat belajarku menurun, kau datang, kau menyemangatiku. Bahkan sampai sekarang kau tak pernah lelah terus menyemangatiku tanpa bosan. Aku semakin takut kehilanganmu. Inilah yang aku takutkan.

Salahkah jika setiap hari kau selalu menyunggingkan senyum diwajahku, perlakuanmu terhadapku yang selalu buatku terbang melayang, kata sayang yang selalu kau ucapkan, semangat yang tak pernah bosan, hingga do’a yang selalu kau panjatkan untukku. Dari sini pun aku mencoba berusaha menyemangatimu, saat kau mulai pesimis dengan keinginanmu aku berusaha membujukmu untuk tetap optimis dan tak kenal lelah atau menyerah, bahkan do’aku untukmu tak pernah berhenti ku panjatkan setiap melaksanakan ibadah 5 waktu. Tuhan, jaga dia selalu untukku.

Semakin hari aku semakin menggilaimu, terlebih setiap malam kau selalu menghubungiku lewat telephone. Suaramu diujung sana begitu indah ku dengar, aku bahkan tak mau jika percakapan kita ini harus berakhir. Keterbukaan mu, kejujuran mu, membuatku semakin mengenal dan mengenal lagi sosokmu.  Benih -benih cinta ini semakin menjadi, sampai-sampai aku tak paham alasan yang aku jelaskan, mengapa aku bisa mencintaimu.

Cinta ini tulus, sungguh. Tak ada penuntutan-penututan untuk menjelasakan apa status kita. Perasaan sayang gak selalu didasari oleh status, begitu juga keseriusan dan kesetian. Status tak menjamin segalanya. Kita sama-sama tak ingin saling menyakiti dan tersakiti, sama-sama tak ingin merasa kehilangan. Hingga kita tak pernah menuntut untuk menjalani kedalam hubungan yang lebih serius. Jika sudah terlalu nyaman dengan semua ini, mengapa kita menuntut yang lebih. Kita tahu konsekuesi ada nya status hubungan ujungnya seperti apa. Dan itu yang buat aku merasa takut. Bahkan kamu pun berpikir demikian.

Walau ku tahu, banyak sekali wanita-wanita yang menggilaimu dan mendekatimu itu hak kamu, aku tak bisa melarangmu begitu saja. Aku bukan siapanya kamu, tapi jujur, aku senang meskipun kamu didekati banyak wanita tapi kamu tetap memilihku.

Bagiku dekat denganmu saja sudah merasa nyaman, bahkan aku tak sempat berpikir kita akan sedekat ini. Kita jalani senyamannya kita. Yang penting perhatianmu, nyamanmu, selalu ada untukku.
Percaya jodoh pasti bertemu.



(Untuk sosok lelaki idamanku -a)

2 komentar: