Laman

Selasa, 28 Januari 2014

Mati Rasa

Rasaku telah mati
Mungkin karena aku terlalu sering disakiti
Atau karena aku trauma menjalin cinta lagi
Siapa yang tak sakit ?
Jika setiap orang yang aku cintai
Selalu menyakitiku, menyianyiakanku
Lelah aku terus bertahan dengannya
Sedangkan dia sendiri, tak pernah memperjuangkanku
Setelah dia meninggalkanku
Seenak jidatnya dia mencari perempuan lain
Seenaknya dia mudah berpaling lagi padaku
Tak puaskah ?
Setelah mengucap keputusannya
Setelah mencoba bertahan dengannya
Setelah ku disiasiakannya
Setelah ku berharap dia adalah cinta sejatiku
Ternyata salah,
Aku telah salah memilihnya
Ku pikir dia adalah yang terbaik
Ku pikir dia berbeda dengan lelaki lain
Ku pikir dia lelaki setia, yg mampu bertahan dgn cintanya
Dia tidak seperti itu…….
Dari sini setelah ku tahu semuanya
Hatiku sakit,
Tak ada yg tahu seberapa besar sakitnya hatiku
Setelah dia meninggalkanku
Lebih besar sakitnya ketimbang aku mencintainya dulu
Dan kini, 
Rasaku hilang, entah kemana 
Rasanya untuk jatuh cinta lagi pun sulit
Bahkan takkan mudah untuk membuka hati lagi kepada laki laki lain
Karena Rasaku telah mati :’)

Sabtu, 18 Januari 2014

Pertemukan Aku

Lelah dengan semua permainan ini Jadwal
Terlalu banyak patah hati yang kurasa
Tak kuasa aku terus bersabar
Sulitnya bertahan akan cinta
Sampai kapan permainan ini berakhir ?

Jujur, jikaku berkenan
Pertemukan aku dengan jodohku
Sekarang juga….
Aku ingin berada disampingnya
Dijaganya, dikasihinya, dimanjanya
Dibelainya, dicintanya, disayangnya
dan dirindunya dengan tulus

Tuhan…. dimanakah cinta sejatiku?
Tak kuasa aku ingin jumpa dengannya
Bisakan aku minta ,
Mempercepat pertemuanku dengannya ?

Minggu, 12 Januari 2014

Labil

Sikapku terhadapmu serba salah
Disaat sekarang aku berharap lagi darimu
Kau malah semakin jauh dengan diriku
Tapi…..
Disaat ku mulai melupakanmu dan mencoba menjalin hubungan dgn lelaki lain
Kau malah datang, 
Seakan kau memberi harapan untukku
Banyak orang bilang
Katanya kau suka terhadapku
Aku tak menggubris
Kenapa ?
Karena sikapmu terhadapku saja selalu berubah
Kau terkadang perhatian
Tapi......
Kau terkadang tak peduli
Aku bingung dengan hatimu
Cara kau mendekatiku saja berbeda
Sikapmu terlalu labil
Terkadang layaknya teman biasa
Terkadang lebih…….
Terkadang kau buatku melayang
Terkadang kau buatku jatuh hingga rapuh
Sampai kapan kau terus seperti ini
Terlalu bodoh memang
Karena aku tak pintar membaca pikiranmu
Rasamu yg sebenarnya pun tak terlihat
Lalu apa aku di matamu ?

Sabtu, 11 Januari 2014

Rasa itu Tumbuh Lagi...............


     Jam menunjukan pukul duabelas siang, aku bergegas menuju kamarku lalu aku siap-siap pergi untuk menghadiri acara reuni bersama teman-teman SMA ku dulu. Ku lirik handphoneku, ada pesan memanggilku. Ku buka dan ku baca, pesan darimu, kau akan menjemputku tepat pukul 12.30. Kau teman ku yang dulu pernah aku suka, pernah aku cintai dalam diam dulu ketika kita masih memakai putih abu. Kau hadir lagi dikehidupanku, setelah dulu aku tutup rapat-rapat dengan rapi perasaan ini rasanya kau buka lagi perlahan hati ini, kau memberi harapan lagi untukku, meskipun aku tak tahu apa kau merasakan hal yang sama atau tidak. Dan benar rasa itu tumbuh lagi namun hanya untukku saja.


     Waktu masih menunjukan pukul 12.15, namun awan putih diluar sana kini memudar berubah menjadi kelam kelabu. Aku dengan gesit, menutup semua jendela rumahku, karena ku tahu diluar angin begitu kencang, bukan pertanda lagi hujan pun turun. Begitu derasnya air hujan disertai dengan angin yang kencang. Tak bisa berbuat apa, akhirnya aku hanya bisa menunggu hujan reda. Di tempat yang lain kau pula merasakan yang sama, kau menunggu hujan itu berhenti. Dan ini sama saja menyita waktuku bersamamu.
     Hujan pun tak lama, akhirnya berhenti dengan cepat. Namun disayangkan. Hujan masih mengguyur ditempat yang berbeda, ditempat kamu yang sekarang kamu diami dan tempati ya rumah mu. Dengan sabar aku menunggumu menunggu hujan reda ditempatmu. Hari ini hujan sebagai inhibitor pertemuan kita. 

     Pukul 13.30 akhirnya hujan reda didaerahmu, kau kirimkan massage bahwa kau akan menuju rumahku untuk menjemputku. Tak lama lima belas menit berlalu, kau sudah menungguku diluar disebrang jalan rumahku. Tak lupa aku pamitan kepada mamah. 

     Aku menyebrang jalan, ku lihat wajahmu tetap sama tak berubah masih seperti yang dulu kau tetap manis, hidung mancungmu tetap melengkung dengan sempurna, bibir tipismu kau angkat dan kau tersenyum untukku. Akupun membalas senyummu. Lalu aku naik kendaraan roda duamu, kemudian kamu tancapkan gas. Tidak terlalu kencang, standarlah kau bawakan motormu. Teringat sesuatu, wangi tubuhmu, parfummu menusuk hidungku. Aku rindu baumu, ternyata kau masing menggunakan parfum yang sama. Rasanya sudah bertahun-tahun baru merasakan wangi parfummu lagi. Padahal dulu itu adalah parfum khas milikmu, aroma tubuhmu membuat hatiku menjadi lebih tenang dan ingin sekali lama-lama berada didekatmu.

     Diperjalanan menuju rumah temanku, kami berbicara banyak. Namun, pembicaraan kita tidak hanya sekedar menanyakan kabar dan bagaimana kuliah kita, pembicaraan kita hanya sekedar itu saja tidak lebih. Tapi, aku sangat rindu. Rindu perbincangan kita dulu seperti ini. Mungkin bagimu ini biasa, tapi bagiku ini luar biasa. Kau menjemputku tak jarang lo, ini kali pertama kau ngajak bareng, jujur awalnya aku kaget, tidak biasanya kau ingin pergi bersama dan menjemputku ke sebuah acara kita, senang rasanya ketika kamu akan menjemputku. Kita ngobrol hanya berdua saja sepanjang jalan, ini membuatku dunia ini serasa milik berdua saja, meskipun ku tahu kau anggap ini biasa, tapi justru kau telah membuka pintu hati ini perlahan Kau buat rasa ini tumbuh lagi.

     Tak terasa akhirnya sampai juga ditempat yang kita tuju, rasanya begitu singkat perjalanan kita. Padahal dalam hati ini aku masih ingin tetap bersamamu berdua saja.

     Akhirnya aku menemui semua teman” SMA ku dulu yang selalu ku rindukan. Kita ngobrol bersama, canda tawa bersama. Kau dengan temanmu, aku pun sama dengan temanku bernostalgia. 

Suatu waktu temanku berbisik, dan menanyakan hal tentangku dan kamu, aku bilang kita cuma temenan tak ada suka tak ada rasa. Mungkin teman ku heran, tumben”nya aku sama kamu datang satu motor berdua, karena ini jarang bahkan tidak pernah dulu kamu seperti itu. Dulu pernah temanku bilang bahwa kau suka kepadaku. Senang memang mendengarnya, tapi apa. Sepertinya tak begitu, kau memperlakukanku layaknya teman biasa. Memang dulu kamu pernah bilang bahwa kamu ingin ada seorang cewek yang menyatakan cintanya untukmu, dan kamu menyuruhku untuk melakukan itu, namun semua ku tolak. Karena aku perempuan, aku tak mau menyatakan cinta kepada laki-laki dimana harga diriku jika itu terjadi meskipun yang menyuruhku adalah orang yang aku sukai tapi itu tak pernah akan aku lakukan. Karena aku perempuan, dan tugas perempuan hanya bisa menunggu bukan mengungkapkan. 

     Ini malam minggu, jujur saja pikiranku ngawur kemana saja. Pikiranku tertuju bahwa ternyata kau memiliki rasa yang sama sepertiku.  Mungkin ini karena kamu datang lagi kedalam hidupku. Jadi wajar saja, karena dulu aku terlalu cinta sama kamu, meskipun cintaku taksampai. Sepertinya jika memang kau menyukaiku dan kau mengungkapkannya. Tak kan ada halang lagi sepertinya, bahkan mungkin orang tuaku pun akan setuju dengan hubungan kita, apalagi dulu kau sering kerumahku, ya walau hanya mengerjakan tugas, tapi dulu mamah ku pernah bilang bahwa aku dan kamu itu cocok, senang mendengarnya dan rasanya memilikimu adalah anugrah terindah yang pernah aku miliki. Dan yang pasti aku takkan pernah menolaknya jika kau memang mengungkapkannya. 

     Sungguh disayang, mungkin kita memang tak berjodoh atau mungkin aku bukan jodohmu, sekeras apapun aku mencintaimu dalam diam toh kau takkan pernah menyadarinya, meskipun aku sudah membuka lampu hijau untukmu kau bahkan takkan peka melihat lampu itu. Pikirku benar, kau hanya menganggapku teman biasa. Karena tak ada special untuk malam minggu ini. Kau biasa kau layaknya teman biasa. Mungkin karena aku yang terlalu mengharapkanmu? Jujur sulit rasanya jika ku harus menutup rapat-rapat lagi rasa ini. Ternyata cintaku masih bertepuk sebelah tangan.






:: Untuk temanku yang selalu kau anggap aku hanya teman biasa tidak lebih::

Senin, 06 Januari 2014

Tak Pernah Kau Anggap

Percuma aku terus berlari mengejarmu
Tapi kau tak pernah berbalik badan
Melihatku yang lelah
Mencintaimu dalam diam

Kau tak pernah menggubris
Perhatianku, penantianku, harapanku
Bahkan Kau tak pernah sadar
Rasaku, cintaku, rinduku 
ini hanya Untukmu

Dengan tololnya, dengan bodohnya
Aku masih mengharapkanmu
Mengharapkan kau katakan cinta untukku
Padahal aku tahu
Kau takkan melakukannya

Aku„ hanya aku yg mencintaimu dlm diam
Hanya aku yg mengagumimu dari jauh
Hanya aku yg merasakan rindu sendirian
Hanya aku yg tak pernah kau anggap

Bertahun tahun aku berharap cintamu
Menahan rindu ini sendirian
Mencoba terus dan mencoba membuka hati untukmu
Bahkan Rela menutup rapat hati ini untuk orang lain
Demi kamu, hanya kamu

Sampai kapan kau akan peka ?
Peka akan cintaku, sayangku, rinduku
Apakah aku berhenti berharap saja ?
Jika cintaku sampai detik ini
Tak pernah kau anggap

Sabtu, 04 Januari 2014

Si Bodoh Pembohong Besar


Si Bodoh Pembohong Besar


Dia memang memiliki segalanya parasnya yang manis, mata yang tajam, hidungnya yang memiliki lengkungan yang begitu sempurna, dan kulit putihnya, semua terasa sempurna wajar jikaku terpesona akan dia.
Namun, sungguh disayangkan hatinya tak semanis wajahnya, hatinya tajam seperti pisau. Tak ada yang bisa menyangkanya akan hal itu. Dulu memang aku terlalu terpesona akan dia, dia yang memiliki wajah polos dan lugu. Aku terperangkap olehnya oleh cintanya, sehingga orang-orang yang begitu peduli akanku agar ku tak boleh mendekatinya tak pernah ku gubris. Siapa yang tak terpesona dia dulu begitu baik sangat baik terhadapku, aku tergoda akan rayuannya. Aku terpesona akan cintanya, rayuan gombal yang dia lontarkan begitu membuatku terbang melayang, seakan aku sempurna dimatanya. Bagaimana tidak, aku wanita yang memiliki banyak kekurangan yang tak sempurna, yang hanya bermodalkan hati untuknya begitu luluh akan cintanya.
Sungguh disayang, semua itu hanya sesaat. Dia yang sempurna yang selalu ku puja ke semua orang, ternyata memiliki hati yang begitu tajam, tajamnya melebihi pisau. Tak disangka dia pembohong besar.
Cinta memang selalu membuat kita begitu bodoh begitu percaya. Aku begitu percaya disaat dia melontarkan kata demi kata untukku bahwa dia mencoba untuk sendiri dulu. Dia tak mau mengecewakan orangtuanya, dia ingin menjadi anak yang berbakti, dia ingin mengejar dulu cita”nya bukan cintanya. Karena aku tahu orangtuanya tak diperbolehkan untuk berhubungan dulu dengan wanita. Begitu percaya apa yang semua dia lontarkan. Begitu polos ketika dia lontarkan kata kata itu, wajahnya membuatku meyakini bahwa itu benar adanya. Dan aku tak bisa mengelak lagi jika semua bergatung orangtuanya. Aku tak bisa menahannya untuk tetap singgah dihatiku lebih lama. Aku tak bisa mempertahankan dinding cinta yang ku bangun jika orang tuanya tak bisa merestui hubungan kita. Dan disana aku menyerah.
Namun sungguh disayangkan, ternyata semua yang dia lontarkan bohong, palsu, rekayasa semata. Ternyata dia berkhianat akan cintaku. Dia meninggalkanku bukan karena tanpa restu orang tua, melainkan karena wanita lain. Ketika ku tahu alasan dia meninggalkanku hanya karena seorang wanita ketika itu pula hatiku sakit, sakit akan dia yang begitu tega menusuk hatiku dengan pisau yang begitu tajam. Hingga hatiku terluka akan pengkhianatan cintanya. Orang yang begitu aku bangga banggakan tega menyianyiakan perasaanku. Hanya karena seorang wanita.
Wanita yang sekarang dia cintai mungkin akan bernasib sama sepertiku. wanita itu pasti sedang tergila gila akan rayuan gombalnya. Dan kulihat rayuannya terhadap wanita itu tak jauh seperti dulu dia merayuku. Bahkan sama percis.
Dulu aku memang bodoh, gara gara aku tak menggubris semua orang lain katakan tentangnya akhirnya aku juga menjadi korban pengkhianatan cintanya. Bagaimana aku tak terperangkap akan cintanya jika wajahnya begitu meyakiniku bahwa dia mencintaiku dengan tulus. Tapi semua itu bohong. 
Tak malukah akan orangtuamu yang kau bawa bawa sebagai alasan untuk meninggalkanku ? Bagaimana kalau orangtuamu tau jika anak lelaki yang di banggakannya berbuat seperti ini. Tak sayangkah kamu akan ibumu ? Bagaimana kalau dia tau bahwa anak lelakinya telah berkhianat kepada seorang wanita yang mencintainya begiti tulus. Anak macam apa kamu, lelaki macam apa kamu. Coba rasakan bagaimana kalau ibumu mengalami hal sepertiku. Pasti akan merasakan sakit. Sama sepertiku. Bahkan akan lebih sakit. Ingat! Tuhan tidak pernah tidur. Bagaimana jika Tuhan memberikan itu semua kepadamu kepada ibumu. Apa kamu tega ? Tega jika suatu saat nanti ibumu mengalami hal sepertiku ? 
Ternyata cinta bisa membuatku hancur. Muka sempurna tak berarti apa apa jika hatinya tajam hanya bisa berkhianat saja terhadap cintanya. Cinta itu memang buta. Seperti aku yang telah dibutakan oleh rayuanya hingga aku terbang melayang dan disaat itu pula dia hempaskan dia jatuhkanku begitu saja lalu dia meninggalkanku dengan begitu mudah. 
— orang tampan berhati pedang

Jumat, 03 Januari 2014

Cukup Hanya Mengagumimu

Cukup - cukup aku mengagumimu dari jauh
Berhenti berharap mungkin lebih baik
Percuma aku mencintaimu dalam diam
Ucapan selamat ulangtahun dariku saja tak kau gubris
Mungkin aku yang dulu terlalu berharap lebih
Seakan dimatamu aku berbeda

Tapi, semua itu hanya perasaanku saja
Kau bahkan tak pernah merasakannya
Betapa aku tergila-gila padamu
Dari sini aku tersadar
Aku takkan berharap lebih lagi
Melupakan adalah jalan terbaik
Tau, ini akan sulit.

Wajar saja, aku bertahun-tahun mencintaimu dalam diam
Sekarang mungkin saatnya
Ku mulai menutup hatiku tentangmu
Percuma telah ku buka lebar-lebar
Namun kau tak kunjung masuk
Bahkan mampir sebentar pun tidak

Terimakasih,
Kau buatku mencintamu
Walau dalam diam