Si Bodoh Pembohong Besar
“
Dia memang memiliki segalanya parasnya yang manis, mata yang tajam, hidungnya yang memiliki lengkungan yang begitu sempurna, dan kulit putihnya, semua terasa sempurna wajar jikaku terpesona akan dia.
Namun, sungguh disayangkan hatinya tak semanis wajahnya, hatinya tajam seperti pisau. Tak ada yang bisa menyangkanya akan hal itu. Dulu memang aku terlalu terpesona akan dia, dia yang memiliki wajah polos dan lugu. Aku terperangkap olehnya oleh cintanya, sehingga orang-orang yang begitu peduli akanku agar ku tak boleh mendekatinya tak pernah ku gubris. Siapa yang tak terpesona dia dulu begitu baik sangat baik terhadapku, aku tergoda akan rayuannya. Aku terpesona akan cintanya, rayuan gombal yang dia lontarkan begitu membuatku terbang melayang, seakan aku sempurna dimatanya. Bagaimana tidak, aku wanita yang memiliki banyak kekurangan yang tak sempurna, yang hanya bermodalkan hati untuknya begitu luluh akan cintanya.
Sungguh disayang, semua itu hanya sesaat. Dia yang sempurna yang selalu ku puja ke semua orang, ternyata memiliki hati yang begitu tajam, tajamnya melebihi pisau. Tak disangka dia pembohong besar.
Cinta memang selalu membuat kita begitu bodoh begitu percaya. Aku begitu percaya disaat dia melontarkan kata demi kata untukku bahwa dia mencoba untuk sendiri dulu. Dia tak mau mengecewakan orangtuanya, dia ingin menjadi anak yang berbakti, dia ingin mengejar dulu cita”nya bukan cintanya. Karena aku tahu orangtuanya tak diperbolehkan untuk berhubungan dulu dengan wanita. Begitu percaya apa yang semua dia lontarkan. Begitu polos ketika dia lontarkan kata kata itu, wajahnya membuatku meyakini bahwa itu benar adanya. Dan aku tak bisa mengelak lagi jika semua bergatung orangtuanya. Aku tak bisa menahannya untuk tetap singgah dihatiku lebih lama. Aku tak bisa mempertahankan dinding cinta yang ku bangun jika orang tuanya tak bisa merestui hubungan kita. Dan disana aku menyerah.
Namun sungguh disayangkan, ternyata semua yang dia lontarkan bohong, palsu, rekayasa semata. Ternyata dia berkhianat akan cintaku. Dia meninggalkanku bukan karena tanpa restu orang tua, melainkan karena wanita lain. Ketika ku tahu alasan dia meninggalkanku hanya karena seorang wanita ketika itu pula hatiku sakit, sakit akan dia yang begitu tega menusuk hatiku dengan pisau yang begitu tajam. Hingga hatiku terluka akan pengkhianatan cintanya. Orang yang begitu aku bangga banggakan tega menyianyiakan perasaanku. Hanya karena seorang wanita.
Wanita yang sekarang dia cintai mungkin akan bernasib sama sepertiku. wanita itu pasti sedang tergila gila akan rayuan gombalnya. Dan kulihat rayuannya terhadap wanita itu tak jauh seperti dulu dia merayuku. Bahkan sama percis.
Dulu aku memang bodoh, gara gara aku tak menggubris semua orang lain katakan tentangnya akhirnya aku juga menjadi korban pengkhianatan cintanya. Bagaimana aku tak terperangkap akan cintanya jika wajahnya begitu meyakiniku bahwa dia mencintaiku dengan tulus. Tapi semua itu bohong.
Tak malukah akan orangtuamu yang kau bawa bawa sebagai alasan untuk meninggalkanku ? Bagaimana kalau orangtuamu tau jika anak lelaki yang di banggakannya berbuat seperti ini. Tak sayangkah kamu akan ibumu ? Bagaimana kalau dia tau bahwa anak lelakinya telah berkhianat kepada seorang wanita yang mencintainya begiti tulus. Anak macam apa kamu, lelaki macam apa kamu. Coba rasakan bagaimana kalau ibumu mengalami hal sepertiku. Pasti akan merasakan sakit. Sama sepertiku. Bahkan akan lebih sakit. Ingat! Tuhan tidak pernah tidur. Bagaimana jika Tuhan memberikan itu semua kepadamu kepada ibumu. Apa kamu tega ? Tega jika suatu saat nanti ibumu mengalami hal sepertiku ?
Ternyata cinta bisa membuatku hancur. Muka sempurna tak berarti apa apa jika hatinya tajam hanya bisa berkhianat saja terhadap cintanya. Cinta itu memang buta. Seperti aku yang telah dibutakan oleh rayuanya hingga aku terbang melayang dan disaat itu pula dia hempaskan dia jatuhkanku begitu saja lalu dia meninggalkanku dengan begitu mudah.
”| — | orang tampan berhati pedang |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar