Jam menunjukan pukul duabelas siang, aku bergegas menuju kamarku lalu aku siap-siap pergi untuk menghadiri acara reuni bersama teman-teman SMA ku dulu. Ku lirik handphoneku, ada pesan memanggilku. Ku buka dan ku baca, pesan darimu, kau akan menjemputku tepat pukul 12.30. Kau teman ku yang dulu pernah aku suka, pernah aku cintai dalam diam dulu ketika kita masih memakai putih abu. Kau hadir lagi dikehidupanku, setelah dulu aku tutup rapat-rapat dengan rapi perasaan ini rasanya kau buka lagi perlahan hati ini, kau memberi harapan lagi untukku, meskipun aku tak tahu apa kau merasakan hal yang sama atau tidak. Dan benar rasa itu tumbuh lagi namun hanya untukku saja.
Waktu masih menunjukan pukul 12.15, namun awan putih diluar sana kini memudar berubah menjadi kelam kelabu. Aku dengan gesit, menutup semua jendela rumahku, karena ku tahu diluar angin begitu kencang, bukan pertanda lagi hujan pun turun. Begitu derasnya air hujan disertai dengan angin yang kencang. Tak bisa berbuat apa, akhirnya aku hanya bisa menunggu hujan reda. Di tempat yang lain kau pula merasakan yang sama, kau menunggu hujan itu berhenti. Dan ini sama saja menyita waktuku bersamamu.
Hujan pun tak lama, akhirnya berhenti dengan cepat. Namun disayangkan. Hujan masih mengguyur ditempat yang berbeda, ditempat kamu yang sekarang kamu diami dan tempati ya rumah mu. Dengan sabar aku menunggumu menunggu hujan reda ditempatmu. Hari ini hujan sebagai inhibitor pertemuan kita.
Pukul 13.30 akhirnya hujan reda didaerahmu, kau kirimkan massage bahwa kau akan menuju rumahku untuk menjemputku. Tak lama lima belas menit berlalu, kau sudah menungguku diluar disebrang jalan rumahku. Tak lupa aku pamitan kepada mamah.
Aku menyebrang jalan, ku lihat wajahmu tetap sama tak berubah masih seperti yang dulu kau tetap manis, hidung mancungmu tetap melengkung dengan sempurna, bibir tipismu kau angkat dan kau tersenyum untukku. Akupun membalas senyummu. Lalu aku naik kendaraan roda duamu, kemudian kamu tancapkan gas. Tidak terlalu kencang, standarlah kau bawakan motormu. Teringat sesuatu, wangi tubuhmu, parfummu menusuk hidungku. Aku rindu baumu, ternyata kau masing menggunakan parfum yang sama. Rasanya sudah bertahun-tahun baru merasakan wangi parfummu lagi. Padahal dulu itu adalah parfum khas milikmu, aroma tubuhmu membuat hatiku menjadi lebih tenang dan ingin sekali lama-lama berada didekatmu.
Diperjalanan menuju rumah temanku, kami berbicara banyak. Namun, pembicaraan kita tidak hanya sekedar menanyakan kabar dan bagaimana kuliah kita, pembicaraan kita hanya sekedar itu saja tidak lebih. Tapi, aku sangat rindu. Rindu perbincangan kita dulu seperti ini. Mungkin bagimu ini biasa, tapi bagiku ini luar biasa. Kau menjemputku tak jarang lo, ini kali pertama kau ngajak bareng, jujur awalnya aku kaget, tidak biasanya kau ingin pergi bersama dan menjemputku ke sebuah acara kita, senang rasanya ketika kamu akan menjemputku. Kita ngobrol hanya berdua saja sepanjang jalan, ini membuatku dunia ini serasa milik berdua saja, meskipun ku tahu kau anggap ini biasa, tapi justru kau telah membuka pintu hati ini perlahan Kau buat rasa ini tumbuh lagi.
Tak terasa akhirnya sampai juga ditempat yang kita tuju, rasanya begitu singkat perjalanan kita. Padahal dalam hati ini aku masih ingin tetap bersamamu berdua saja.
Akhirnya aku menemui semua teman” SMA ku dulu yang selalu ku rindukan. Kita ngobrol bersama, canda tawa bersama. Kau dengan temanmu, aku pun sama dengan temanku bernostalgia.
Suatu waktu temanku berbisik, dan menanyakan hal tentangku dan kamu, aku bilang kita cuma temenan tak ada suka tak ada rasa. Mungkin teman ku heran, tumben”nya aku sama kamu datang satu motor berdua, karena ini jarang bahkan tidak pernah dulu kamu seperti itu. Dulu pernah temanku bilang bahwa kau suka kepadaku. Senang memang mendengarnya, tapi apa. Sepertinya tak begitu, kau memperlakukanku layaknya teman biasa. Memang dulu kamu pernah bilang bahwa kamu ingin ada seorang cewek yang menyatakan cintanya untukmu, dan kamu menyuruhku untuk melakukan itu, namun semua ku tolak. Karena aku perempuan, aku tak mau menyatakan cinta kepada laki-laki dimana harga diriku jika itu terjadi meskipun yang menyuruhku adalah orang yang aku sukai tapi itu tak pernah akan aku lakukan. Karena aku perempuan, dan tugas perempuan hanya bisa menunggu bukan mengungkapkan.
Ini malam minggu, jujur saja pikiranku ngawur kemana saja. Pikiranku tertuju bahwa ternyata kau memiliki rasa yang sama sepertiku. Mungkin ini karena kamu datang lagi kedalam hidupku. Jadi wajar saja, karena dulu aku terlalu cinta sama kamu, meskipun cintaku taksampai. Sepertinya jika memang kau menyukaiku dan kau mengungkapkannya. Tak kan ada halang lagi sepertinya, bahkan mungkin orang tuaku pun akan setuju dengan hubungan kita, apalagi dulu kau sering kerumahku, ya walau hanya mengerjakan tugas, tapi dulu mamah ku pernah bilang bahwa aku dan kamu itu cocok, senang mendengarnya dan rasanya memilikimu adalah anugrah terindah yang pernah aku miliki. Dan yang pasti aku takkan pernah menolaknya jika kau memang mengungkapkannya.
Sungguh disayang, mungkin kita memang tak berjodoh atau mungkin aku bukan jodohmu, sekeras apapun aku mencintaimu dalam diam toh kau takkan pernah menyadarinya, meskipun aku sudah membuka lampu hijau untukmu kau bahkan takkan peka melihat lampu itu. Pikirku benar, kau hanya menganggapku teman biasa. Karena tak ada special untuk malam minggu ini. Kau biasa kau layaknya teman biasa. Mungkin karena aku yang terlalu mengharapkanmu? Jujur sulit rasanya jika ku harus menutup rapat-rapat lagi rasa ini. Ternyata cintaku masih bertepuk sebelah tangan.
:: Untuk temanku yang selalu kau anggap aku hanya teman biasa tidak lebih::

Tulisanmu kereen!! ini tulisan bisa mewakili perasaan setiap orang yang jatuh cinta dalam diam. aku suka kalimat ini : Aku rindu baumu, ternyata kau masing menggunakan parfum yang sama. Rasanya sudah bertahun-tahun baru merasakan wangi parfummu lagi. Padahal dulu itu adalah parfum khas milikmu, aroma tubuhmu membuat hatiku menjadi lebih tenang dan ingin sekali lama-lama berada didekatmu.
BalasHapusTerimakasih :)
BalasHapus