Laman

Sabtu, 26 Juli 2014

Mengais Kerinduan

Bayang wajahmu terlalu lekat diotakku
Wangi tubuhmu saat itu masih tercium dihidungku
Meski tanah yang kita pijak sekarang berbeda
Langit kita sudah tak lagi sama
Kau ditempatmu, aku ditempatku

Kiloan meter jarak memisahkan kita
Bukan penghalang aku tetap mencintaimu
Tapi rindu ini kerap kali menggerogoti pikiranku

Terakhir kali kau menemuiku
Sebuah batang coklat manis yg kau berikan
Dan kertas kenangan berisikan pertanda jika kita akan berpisah sementara waktu
Bagiku, ini berat
Aku harus menahan rindu sementara waktu itu

Sebelum kau pergi
Kau lantunkan sebuah lagu untukku
Lagu ciptaanmu yang membuatku terharu biru
Tiap nada yang kau lantunkan tiap itu aku meneteskan air mata
Inikah caramu agar aku tetap selalu merindukanmu
Mengingatmu suaramu

Ku tahan rindu ini
Tapi hati tetap yakin bahwa aku dan kamu tetap bersama
Meski dalam jarak

Sabtu, 19 Juli 2014

Coklat Rahasia (Manisnya Cinta hanya Kau dan Aku Rasakan)


Chapter 3

Terpesona ku pada pandangan pertama

Tibalah makanan yang dipesanku, bi Sumi memang pengertian dan mengerti keinginan kita.
Bayu langsung melahap bala-bala yang di suguhkan oleh bi Sumi.

"Buseet dah, lu ternyata rakus amat yu"ucap Ogi sekenanya.

"Biarin, gue laper gi. Laper gue ga bisa ditahan" bales Bayu pada Ogi.

Bayu adalah cowok pintar yang sama sepertiku, ya jago menghitung. Bayu merupakan orang yang disukai Faye sejak kita sekelas. Entah mungkin karena mereka sama-sama penyuka novel. Dan terlihat Bayu memang tidak sepertiku yang anti baca novel. Justru dia pun sama mempunyai banyak koleksi novel katanya, tapi tak sebanyak novel Faye.

Aku pun sama, langsung melahap suguhan yang disediakan bi Sumi. Makanan khas entah khas dari mana, yang bernama bala-bala ini. Adalah makanan favoriteku dirumah Aldo.

"Enak banget bala-bala nya, makasih yaa bi Sumi. Uuuhh lezaaat" ucapku sambil memakan bala-balanya.

"Sama-sama neng" kata bi Sumi, dan langsung pergi lagi membawa nampan ke dapur.

"Duh kalian, sama-sama rakus. Gue juga gak mau kalah keles" langsung Faye ngambil bala-balanya.

"Gue juga mau" Aldo pun menyusulnya.

Kami semua makan bala-bala dengan lahapnya. Dan lupa kalo kami lagi belajar Matematika.
Akhirnya bala-bala itu ludes tanpa sisa. Kita melanjutkan belajarnya. Tapi di pertengahan pembelajaran kita. Tiba-tiba Bayu minta pamit duluan.

"Guys, gue cabut duluan ya. Gue harus ngeles dulu murid SD gue, lagian udah jam 3 nih. Waktunya gue ngajar murid-murid gue" Kata Bayu.

Bayu memang sering mengajar anak-anak SD yang kurang mampu. Dia mempunyai pondok khusus buat belajar anak-anak yang kurang biaya untuk sekolah. Pondok itu dibangun ayah Bayu. Dan Bayu yang menjalankannya.

"Duh, bapak satu ini sibuk bener" ucapku
Bayu pun segera membereskan buku-buku bekas belajar tadi. Dan dimasukkanya ke tas. Lalu dia beranjak dari saung itu.

"Ya udah gue cabut yaa" Bayupun pergi keluar lewat pintu depan.
Sebelum itu, Faye memanggil bayu

"Eh Bay, hati-hatu yaaaa" kata Faye dengan malu-malu

"Iya Fay" dengan senyuman manis khas Bayu dengan memperlihatkan lesung pipi yang terlihat semakin manis. Pantas jika Faye menyukainya.

"Cieee, lu suka sama Bayu ya" bisikku pada Faye

"Apaan sih lu" ucap Faye sambil menimpuk buku yang lumayan tebal ke kepalaku, dengan wajah yang semu merah terlihat jelas di wajah Faye

"Aww sakit Fay" aku pun langsung menggaruk-garuk kepalaku yang lumayan pening ditimpuk buku setebal itu.

"Huusssh ah kalian jangan berantem, ayo kita lanjutkan belajar" Aldo pun langsung menengahkan posisinya biar kita ga berkelanjutan berantem terus.

Tapi tiba-tiba. Di ujung sana dekat pintu masuk ruangan ada sosok jangkung yang wajahnya mirip Aldo tapi dia lebih tampan dan dewasa, juga memiliki rambut dan pakaian yang rapih. Terlihat lebih kasual dan gagah dengan dada yang bidang terlihat dengan pakaian dia yang menggunakan kemeja garis-garis, dan menenteng tas hitam, juga jas putih dilengannya. Hanya membedakan dia berkaca mata. Sosok itu menghampiri saung yang kini kita tempati.

"Aldo, kunci mobil dimana ?" Ucap dia terhadap Aldo. 

Duh suaranya sangat berwibawa. Padahal hanya sekedar menanyakan hal itu. Tapi suaranya berbeda jauh sama Aldo yang terkadang nyebelin dan ceplas-ceplos.

"Ada di rak dekat dapur" kata Aldo

"Ya sudah, makasih" langsung dia meleos kedalam rumah. Tapi dia meninggalkan wangi parfume ditubuhnya. Meskipun kejauhan tapi wangi parfume yang digunakan itu begitu melekat di hidungku.

"Siapa Al ?" Tanya Ogi

"Abang gue" balasnya

"Cakep yah, jauh banget sama lo, iya gak Bell" sambung Faye 
"Eh bell, bell, bell hello" Faye menggoyangkan tubuhku. 

Baru sadar kalo aku dari tadi memperhatikan sosok jangkung itu
"Eh aaa…..da apa" gugupku dengan tersipu malu

"Napa sih lu, di panggil-panggil dari tadi ga nyawut-nyawut. Lu naksir kakaknya Aldo yaaa, hayoo ngaku aja deh, ngeliatin aja sampai segitunya" goda Faye

"Ahh enggak biasa aja" berusaha untuk so cool, sambil pura-pura membuka-buka buku menutupi rasa gugupku
Dan memang yang diucapkan Faye benar, aku menyukainya. Mungkin jika disamakan di film drama Indonesia jika ku sekarang lagi jatuh cinta pada pandangan pertama. 

"Yaaah, Bella naksir kakak Aldo yaa. Lah aku dikemanain Bell" tanya Aldo dengan wajah yang sangat cemberut.

"Kelaut ajah lu" semprot Faye sekenanya

"Ah lu tega bener sih Fay"

"Udah deh, berantem mulu dari tadi. Gimana mau konsen buat belajar nih ? Besok ulangannya cuys. Gue pengen bisa. Dan lagian dia cuma abang gue. Ngapain sih diperebutin. Lagian cakepan gue. Iyakan bell ?" Ucap Aldo sekenanya

"Yah lu Pede banget sih. Udah jelas keliatan banget. Cakepan kakak lu lah" ucap Faye lagi sekenannya.

Benar Fay. Benar banget apa yang diucapin lo. Dia ganteeeeeng banget. Ucapku dalam hati. Karena emang aku selalu gengsi dalam hal mengungkapkan seperti ini.

"Eh ngomong-ngomong kakak lu kuliah apa kerja ? Terus gayanya kok kaya dokter gtu" tanya Faye penasaran Dan itu merupakan pertanyaan yg sejak tadi aku ingin pertanyakan pada Aldo, tapi untungnya Faye mewakilinya.

"Lu bener, kuliah jurusan dokter. Ya udah sih nanya abang gue mulu. Kapan nih belajar laginya?" Aldo mulai kesal. Karena dari tadi belajarnya ga bener-bener.

"Ya udah, ayo kita lanjutkan lagi" tungkasku
Kita pun melanjutkan lagi belajarnya. Ya meskipun diotakku sekarang. Aku masih memikirkan sosok pria tampan itu.

Coklat Rahasia (Manisnya Cinta hanya Kau dan Aku Rasakan)


Chapter 2

Kesunyian dihati dapat terobati dengan adanya sosok seperti kalian 

Tibalah kita di Komplek Perumahan Mawar Regency. Kami memasuki rumah bercat abu dengan desain rumah yang minimalis, terlihat simple tapi memiliki kesan yang nampak lebih modern dan elegan. Rumah megah bertingkat ini memiliki nomor 25A. Sang pemilik rumah ini adalah keluarga bapak Aryon. Kami pun bergegas masuk. Ketika pintu dibukakan. Rumah tersebut langsung di sambut hangat dengan desain interior ruang tamu yang megah, bersofa lembut nan mewah. Tapi kami tidak langsung duduk disana. Kami langsung menuju ruangan belakang. Dalam ruangan saja sudah terlihat bahwa dibelakang rumah terdapat kolam ikan dan taman kecil yang indah. Terlihat di jendela kaca kebesaran yang menghubungkan ruangan dalam dan ruangan belakang rumah. Terdapat pula saung pinggir kolam ikan dengan gaya khas sunda tempat dimana kita selalu belajar disana. Rumah keluarga Aryon ini cukup terbilang unik juga hehe dari depan nampak desain eksterior yang memiliki desain gaya khas eropa tapi halaman belakang rumah nampak gaya eksterior dengan desain pedesaan gaya khas Sunda. Tapi itu yang membedakan rumah keluarga Aryon tampak menarik dan dibikin betah penghuninya. Meskipun setiap kita mengunjungi rumahnya, jarang terlihat sosok Ayah ataupun Ibu Aldo. Mungkin mereka sibuk dengan pekerjaannya.

Kita duduk lesehan di saung. Aldo memanggil Bi Sumi untuk membawakan minuman dan makanan untuk teman-temannya. Tak lama minuman juice orange langganan kami dan cemilan keripik balado kesukaan kami sudah datang.

"Bi Sumi, bikin gorengan khas bibi dong. Apasih namanya yang suka bibi sebut? Duuh lupa" kataku sambil menggarukan kepalanya berusaha mengingat-ngingat.

"Bala-bala neng" ceplos Bi Sumi.

"Nah itu bi. Sumpah bala-bala bi Sumi enak bangeet. Ya bi bikin yaaa" rayuku

"Gak apa-apa kan Al?" Tanyaku pada Aldo

"Iyee gak apa-apa. Woles buu hahaa. Bikinin yaa bi, yang banyaaak bangeet bi. Kasian anak-anak pada kelaperan haha. Apalagi si Bella biar badan langsing tapi makan paling doyan haha"

Sontak semua teman-teman tertawa. Ejekan Aldo membuat bibirku cemberut. Tega-teganya dia melakukan hal itu depan anak-anak lain.

"Gak apa-apa yaa Bella, gue mah tetep nerima loe apa adanya ko" duh gombalan melesat lagi dari otak si Ogi.

Semuanya makin tertawa puas. Si Ogi ngapain harus ngegombal lagi saat situasi kaya gini.

"Ya sudah. Sudahlaah. Emang aku doyan makan. Puas kalian. Wleee" ucapku sambil menjulurkan lidahku tanda tak terima

"Duh, ngambek nih ngambek. Maaf yaa Bell. Masih tetep ingin ngajarin kita-kita kan Bell ?" Ujar Aldo

"Iya Al. Pastilah selagi ada makanan" hahaa semua tertawa lagi semakin terbahak-bahak. Kesunyian rumah Aldo sudah terobati dengan adanya kami disini. Canda tawa kami melesat di halaman belakang rumah Aldo.
Bibi Sumi sudah melaksanakan tugasnya untuk membuatkan bala-bala buat kami.

Dan kami mulailah belajar Matematika. Ku buka tasku lagi. Dan teringat didalamnya masih ada batang coklat yang tadi aku temukan didalam tas. Batang coklat dari Mr.Coklat yang masih misterius. Akupun mengeluarkan coklatnya.

"Guys, ini coklat ada yang mau ga ?"

"Duh makan aja Bell buat loe. Kan loe yang kelaperan" ucap Aldo sekenanya. "Lagian bukannya loe tuh cintaa banget sama yang namanya coklat" lanjut Aldo lagi.

"Iya emang suka banget sih, tapi gak enak juga masa dimakan sendirian" tungkasku

"Sudahlah Bell, kan itu coklat dikhususin buat loe dari Mr. Coklat. Udah makan aja" Faye berkoar haha

"Gak enaklah Fay"

"Ya udah taroh lagi, dan makan di rumah aja. Ribet amat sih nih cewe satu" sewot Aldo

"Loe dari tadi sewot mulu sih. Ntar gak jadi di ajarin sama gue hayo"

"Iya deh iya maaf. Yuk ah lanjut kita belajar matematika" ajak Aldo.
Dan teman-teman lainnya pun segera mengeluarkan buku-buku dan catatan yang dulu mereka tulis.

Coklat Rahasia (Manisnya Cinta hanya Kau dan Aku Rasakan)


Chapter 1

Cinta tak semudah rumus matematika, kadang buat bingung dan rumit. 

"Bella jadi belajar barengkan?" Ucap Aldo, dia adalah teman kelasku, nama lengkapnya Rivaldo Aryon sudah 2 tahun aku bersamanya, menjadi sahabatnya. Pria bertubuh jangkung ini mengajak ku untuk belajar bareng. Besok adalah ulangan Matematika, dan Aldo sudah langganannya belajar Matematika bersamaku. Ya aku jago dalam hitungan, beda sama Aldo yang jago hapalan. Tapi kita sama-sama selalu melengkapi, saat aku harus berjuang mati-matian belajar biologi, maka Aldo adalah jurus utama untuk mengalahkan kelemahanku.

"Jadi bos, dimana Al?" Ucapku, sambil membereskan buku-buku pelajaran, karena sudah saatnya pulang.

"Rumah gue biasa, eh tapi temen-temen yang lain mau pada ikut. Gak apa apa kan Bell ?" Ujar Aldo

"Iya Bell, gue juga pengen ikut. Gue juga pengen jago menghitung kaya lo, biar gue tahu seberapa besar sih cinta gue ke lo Bell" ceplos Ogi sambil ngegombal.

Iya namanya Mada Sogi Syahreza, nama bagus tapi kelakuan semerawut. Kalo dibilang kece, dia terbilang kece. Putih, tinggi, berhidung mancung pula. Tapi sayang semua tertutup dengan sikap kelebayan dia yang akut. Katanya ini masih katanya, dia suka terhadapku, tapi aku tak pernah menggubris. Gombalan yang dia lontarkan tak hanya untukku, tapi untuk perempuan lain. Bahkan semua perempuan kelas XII IPA 1 sudah menjadi korban gombalannya.

"Yoi, semua boleh ikut, asal ada syaraat ya Al" ancam aku hahaha

"Apaan syaratnya Bell ?, jangan yang aneh-aneh yaa"

"Gak kok Al, cukup sediain makanan di Rumah lo ya"

"Soal itu gampang, sudah disiapkan seperti biasa Bell, gue tau lu kayak gimana" Yaa begitulah kita, sudah terbiasa dengan semua ini, belajar bareng sambil ngemil bareng di rumah Aldo.

Akhirnya semua buku sudah aku rapihkan dan dimasukkan kedalam tas, tapi tertanya sebelum aku memasukkan bukuku kedalam tas, barang itu muncul lagi. Ya! Sebatang Coklat berada didalam tasku lagi. 

“Fay, gue dapet coklat lagi” ceplosku 

"Ciyeee dapet coklat dari Mr.Coklat yang entah berantah siapa pengirimnya” ujar Faye

“Gue bingung, siapa sih yang ngasih coklat ini. Udah ketiga kalinya gue dapet coklat, dalam jam dan waktu yang sama, lo tau kan rabu kemarin gue dapet coklat yang serupa, dan rabu kemarinnya lagi juga sama. Dan waktunya pas jam pulang kaya gini pula. Siapa sih pengirimnya?” Kebingungan mulai menghantuiku.

Aku bingung dengan ini semua, ketigakalinya aku mendapatkan coklat, dalam bentuk yang sama, jam yang sama, dan hari yang sama. Dan yang lebih anehnya, coklat itu punya nama. This name is “ESPECIALLY FOR YOU”. Sangat berbeda dari kebanyakan coklat yang selalu aku beli di mini market. Tapi coklat ini berbeda. Seperti diproduksi sendiri.

"Sudah terima saja Bell, kan coklatnya juga enak hahaha" ucap Faye

Dia sahabat sekaligus teman sebangkuku sejak kelas sepuluh, sepertinya aku dan Natasha Faye sudah ditakdirkan bersama sekelas, sebangku, sesekolah, sehidup, mungkin semati. Oh tidak. Berkacamata karena gemar membaca, dia jago nulis, ratu dari segala ratu koleksi novel, begitu banyak koleksi novel dirumahnya, hingga dia punya ruangan sendiri khusus buat koleksi novel-novelnya, sangat berbanding terbalik denganku. Yang tak minat untuk membaca novel, apalagi harus membaca novel setebel-tebelnya dengan ratusan halaman yang menggunakan font kecil, duh meribetkan.
Kembali kebatang coklat tadi, aku heran siapa pemilik coklat ini. Kenapa dia begitu niat mengirimkan coklat tiap hari rabu kepadaku.

"Eh gi, lu yang ngasih coklat ke gue ya?" Tanya ku pada Ogi, ya Ogi sasaran utamaku aku tanyakan, karena kadang tingkah dia yang selalu keterlaluan.

"Kalo iya emg kenapa Bella ? Pasti lo gak akan percaya" ucap santai dari ogi

"Itu ogi yang bikin special buat kamu sayaang"tambah Ogi lagi

"Lu percaya sama si Ogi Bell ? Cowo mata keranjang gitu hahaha" tawa Faye

Ogi juga malah cengengesan seperti itu. Dan tampang wajahnya sangat tidak bisa dipercaya
Bener juga kata Faye, duh aku semakin bingung. Lantas siapakah ? Aldo ? Gak mungkin banget. Dia sahabat aku, lantas jika dia yang memberikan coklatnya padaku, pasti dia langsung memberikan kepadaku. Tidak mungkin dengan rahasia-rahasiaan seperti ini.

"Yuk Bell cabut sekarang, udah makan aja coklatnya jangan bikin bingung gitu, lagian lu harusnya bersyukur Bell" Ajak Aldo, dan benar yang Aldo katakan aku harusnya bersyukur dengan semua ini.

Sudah tak usah dihiraukan Bell, ujarku dalam hati.

"Ya udah, yuk cabut"

Aku, Aldo, Faye, Igo dan teman lainnya yang akan ikut belajar bareng bergegas keluar kelas, menuju parkiran.

Coklat Rahasia (Manisnya Cinta hanya Kau dan Aku Rasakan)



Prolog - 

Hujan menjadi alasan agar aku tetap tinggal disebuah tempat kecil yang dinamakan halte bis. Tak ada tanda hujan akan berhenti. Langit masih asik menangisi alam ini. Awan masih senang menampilkan warna abunya. Dan matahari masih asik bersembunyi, dan enggan untuk hadir menghentikan hujan.

Tak tahu harus berbuat apalagi, angin menulusuri celah-celah epidermis kulitku. Tubuhku menggigil tak bisa menahan celahan angin masuk ke tubuhku. Jaket penghangatku lupa aku bawa. Hanya menggosokkan kedua tanganku yang dapat menghangatkan tubuhku, meskipun hanya sementara.

Waktu menunjukan pukul 5 sore, semakin dingin yang kurasakan. Aku duduk dan masih menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku sambil ku tiup-tiup. Bisku tak kunjung datang, apakah hujan sebagai inhibitor pak supir untuk menjalankan tugasnya.

Sekarang aku berdiri menengok kiri-kanan untuk memastikan bis menuju rumahku sudah datang atau belum. Celingak celinguk tak ada bis pun yang menampakkan kaca kebesarannya. Tiba-tiba sosok jangkung pria yang menggunakan masker berdiri di hadapanku, sontak aku kaget dengan keadaan ini. Pria misterius yang memiliki postur tubuh yang tinggi, mungkin kepalaku hanya sejajar dengan bahunya.

"Kamu kedinginan" pria itu bicara dengan masker yang masih menutupi wajahnya. Aku hanya mengangguk. Karena benar adanya aku memang kedinginan. Ku lihat matanya, sepertinya mata itu tak asing untukku. Begitu familiar. Dan hidung mancungnya terlihat begitu sempurna lengkungannya walaupun ditutupi masker.

"Pakailah" pria itu melesat pergi berlari begitu saja, dan ternyata dia meninggalkan jaketnya dipundakku. Jaket kebesaran berwarna hitam seketika menghangatkan tubuhku yang dingin. Aku melongo kaget. Kenapa aku tak sadar saat dia menaruh jaketnya di pundakku.


tidiiiiiittttt……tidiiiiiit….. Klakson bis yang akan ku tumpangi membuyarkan lamunanku.

"Neng„ mau naik ga" kata kondektur bis itu.

"Iiiii….yaa pak" gugupku, aku buru-buru melesat dari Halte dan menaiki Bis itu.

Aku mencari tempat duduk kosong, dan kulihat disebelah kiriku ada kursi yang kosong dekat jendela bis. Akupun duduk disana. Bis pun melaju. Aku termenung apa yang terjadi barusan, siapa pria misterius itu yang tiba-tiba menghangatkan tubuhku dengan memberiku jaket. Wajahnya memang terlalu familiar untukku, meskipun masker yang menutupinya. 
Tapi sayang, aku tak mengingatnya.

Jumat, 18 Juli 2014

Rinduku terobati

Malam itu pesonamu kerap kali menjatuhkanku kedalam lubang kebahagiaan
Seakan-akan kau hadir dan mengobat rinduku yang berat
Masih ku ingat, senyuman manismu membuatku semakin terperangkap
Pegangan tanganmu seakan-akan menjagaku dan melindungiku
Kau jaga aku dengan hati-hati seakan akan aku adalah telur yang mudah pecah
Indahnya malam itu, harapku ingin hentikan waktu
Agarku bisa merasakan nyamannya berada di sampingmu
Menikmati senyum indahmu
Mencium bau tubuhmu yang khas melekat dihidungku
Seakan pulangpun wangi tubuhmu masih kurasakan
Menikmati genggaman tanganmu, seakan aku tak mau kau lepaskan
Dan aku ingin waktu itu berhenti
Hanya untuk bersamamu
Berdua saja
Kurasa malam itu lebih indah
Dan aku merindukannya :)

Rabu, 16 Juli 2014

Semangat Sayang

Hai„„

Untuk seseorang yang akan memperjuangkan cita-citanya
Semangat untukmu

Do’aku takkan pernah berhenti
Aku selalu meminta kepada Tuhan
agar lelaki ini bisa tercapai keinginannya harapannya

Aku akan bahagia bila lelakiku bahagia
Aku sayang dan cinta dia
Aku mendukung semua yang ia inginkan

Tuhaaan, ku mohon dengar dan kabulkan keinginan dia
Lihatlah perjuangan dia
yang selalu berusaha untuk belajar
Yang tak pernah berhenti beribadah kepadaMu
Tuhan kau tak pernah tidur, ku yakin, kau mengabulkan semua keingannya cita-cita

Semangaaat sayang, do your best
I'll support you my lovely
Kejarlah cita-cita mu sayang

Jumat, 04 Juli 2014

Bahu Tempatku Bersandar

Tak salah memilihmu
Disaat aku benar-benar rapuh
Kau datang
Kau rela menjadi bahuku
Bahu tempatku bersandar
Kau buatku tenang
Menenangkan hatiku yg galau
Saatku meneteskan airmataku
Kau rela menghapus air mataku
Saatku pikiranku kacau
Kau rela mendinginkan pikiranku
Saatku terpuruk menangisi keadaan
Kau datang memberikanku senyuman
Kau rela menjadikan tempat bersandar
Kau rela menenangkan jiwaku
Kau rela melakukan semuanya hanya untuk membuatku tersenyum lagi
Kau lelakiku yang selalu ada
Kau lelakiku yang selalu peka
Kau lelakiku yang selalu rela melakukan apa aja hanya untuk membuatku bahagia
Kau, tak ada lagi lelaki seperti kau
Kau memang segalanya

Kamis, 03 Juli 2014

Menahan Rindu

Ketika ku merindukanmu
Tak berani ku katakan padamu
Tapi hanya bisa
Mendengarkan lagumu suaramu
Hanya itu obatku
Obatku hanya lagumu
Yang dulu kau persembahkan untukmu
Tapi luka rindu yg kurasakan
Belum bisa sembuh total
Sembuhku jikaku bertatap muka
Menggenggam jemarimu
Mencium aroma tubuhmu
Tapi jarak yg memisahkan kita
Penghalang besar yg buatku makin terluka
Yaa..... Terluka menahan rindu :')