Prolog -
Hujan menjadi alasan agar aku tetap tinggal disebuah tempat kecil yang dinamakan halte bis. Tak ada tanda hujan akan berhenti. Langit masih asik menangisi alam ini. Awan masih senang menampilkan warna abunya. Dan matahari masih asik bersembunyi, dan enggan untuk hadir menghentikan hujan.
Tak tahu harus berbuat apalagi, angin menulusuri celah-celah epidermis kulitku. Tubuhku menggigil tak bisa menahan celahan angin masuk ke tubuhku. Jaket penghangatku lupa aku bawa. Hanya menggosokkan kedua tanganku yang dapat menghangatkan tubuhku, meskipun hanya sementara.
Waktu menunjukan pukul 5 sore, semakin dingin yang kurasakan. Aku duduk dan masih menggosok-gosokkan kedua telapak tanganku sambil ku tiup-tiup. Bisku tak kunjung datang, apakah hujan sebagai inhibitor pak supir untuk menjalankan tugasnya.
Sekarang aku berdiri menengok kiri-kanan untuk memastikan bis menuju rumahku sudah datang atau belum. Celingak celinguk tak ada bis pun yang menampakkan kaca kebesarannya. Tiba-tiba sosok jangkung pria yang menggunakan masker berdiri di hadapanku, sontak aku kaget dengan keadaan ini. Pria misterius yang memiliki postur tubuh yang tinggi, mungkin kepalaku hanya sejajar dengan bahunya.
"Kamu kedinginan" pria itu bicara dengan masker yang masih menutupi wajahnya. Aku hanya mengangguk. Karena benar adanya aku memang kedinginan. Ku lihat matanya, sepertinya mata itu tak asing untukku. Begitu familiar. Dan hidung mancungnya terlihat begitu sempurna lengkungannya walaupun ditutupi masker.
"Pakailah" pria itu melesat pergi berlari begitu saja, dan ternyata dia meninggalkan jaketnya dipundakku. Jaket kebesaran berwarna hitam seketika menghangatkan tubuhku yang dingin. Aku melongo kaget. Kenapa aku tak sadar saat dia menaruh jaketnya di pundakku.
tidiiiiiittttt……tidiiiiiit….. Klakson bis yang akan ku tumpangi membuyarkan lamunanku.
"Neng„ mau naik ga" kata kondektur bis itu.
"Iiiii….yaa pak" gugupku, aku buru-buru melesat dari Halte dan menaiki Bis itu.
Aku mencari tempat duduk kosong, dan kulihat disebelah kiriku ada kursi yang kosong dekat jendela bis. Akupun duduk disana. Bis pun melaju. Aku termenung apa yang terjadi barusan, siapa pria misterius itu yang tiba-tiba menghangatkan tubuhku dengan memberiku jaket. Wajahnya memang terlalu familiar untukku, meskipun masker yang menutupinya.
Tapi sayang, aku tak mengingatnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar