Chapter 1
Cinta tak semudah rumus matematika, kadang buat bingung dan rumit.
"Bella jadi belajar barengkan?" Ucap Aldo, dia adalah teman kelasku, nama lengkapnya Rivaldo Aryon sudah 2 tahun aku bersamanya, menjadi sahabatnya. Pria bertubuh jangkung ini mengajak ku untuk belajar bareng. Besok adalah ulangan Matematika, dan Aldo sudah langganannya belajar Matematika bersamaku. Ya aku jago dalam hitungan, beda sama Aldo yang jago hapalan. Tapi kita sama-sama selalu melengkapi, saat aku harus berjuang mati-matian belajar biologi, maka Aldo adalah jurus utama untuk mengalahkan kelemahanku.
"Jadi bos, dimana Al?" Ucapku, sambil membereskan buku-buku pelajaran, karena sudah saatnya pulang.
"Rumah gue biasa, eh tapi temen-temen yang lain mau pada ikut. Gak apa apa kan Bell ?" Ujar Aldo
"Iya Bell, gue juga pengen ikut. Gue juga pengen jago menghitung kaya lo, biar gue tahu seberapa besar sih cinta gue ke lo Bell" ceplos Ogi sambil ngegombal.
Iya namanya Mada Sogi Syahreza, nama bagus tapi kelakuan semerawut. Kalo dibilang kece, dia terbilang kece. Putih, tinggi, berhidung mancung pula. Tapi sayang semua tertutup dengan sikap kelebayan dia yang akut. Katanya ini masih katanya, dia suka terhadapku, tapi aku tak pernah menggubris. Gombalan yang dia lontarkan tak hanya untukku, tapi untuk perempuan lain. Bahkan semua perempuan kelas XII IPA 1 sudah menjadi korban gombalannya.
"Yoi, semua boleh ikut, asal ada syaraat ya Al" ancam aku hahaha
"Apaan syaratnya Bell ?, jangan yang aneh-aneh yaa"
"Gak kok Al, cukup sediain makanan di Rumah lo ya"
"Soal itu gampang, sudah disiapkan seperti biasa Bell, gue tau lu kayak gimana" Yaa begitulah kita, sudah terbiasa dengan semua ini, belajar bareng sambil ngemil bareng di rumah Aldo.
Akhirnya semua buku sudah aku rapihkan dan dimasukkan kedalam tas, tapi tertanya sebelum aku memasukkan bukuku kedalam tas, barang itu muncul lagi. Ya! Sebatang Coklat berada didalam tasku lagi.
“Fay, gue dapet coklat lagi” ceplosku
"Ciyeee dapet coklat dari Mr.Coklat yang entah berantah siapa pengirimnya” ujar Faye
“Gue bingung, siapa sih yang ngasih coklat ini. Udah ketiga kalinya gue dapet coklat, dalam jam dan waktu yang sama, lo tau kan rabu kemarin gue dapet coklat yang serupa, dan rabu kemarinnya lagi juga sama. Dan waktunya pas jam pulang kaya gini pula. Siapa sih pengirimnya?” Kebingungan mulai menghantuiku.
Aku bingung dengan ini semua, ketigakalinya aku mendapatkan coklat, dalam bentuk yang sama, jam yang sama, dan hari yang sama. Dan yang lebih anehnya, coklat itu punya nama. This name is “ESPECIALLY FOR YOU”. Sangat berbeda dari kebanyakan coklat yang selalu aku beli di mini market. Tapi coklat ini berbeda. Seperti diproduksi sendiri.
"Sudah terima saja Bell, kan coklatnya juga enak hahaha" ucap Faye
Dia sahabat sekaligus teman sebangkuku sejak kelas sepuluh, sepertinya aku dan Natasha Faye sudah ditakdirkan bersama sekelas, sebangku, sesekolah, sehidup, mungkin semati. Oh tidak. Berkacamata karena gemar membaca, dia jago nulis, ratu dari segala ratu koleksi novel, begitu banyak koleksi novel dirumahnya, hingga dia punya ruangan sendiri khusus buat koleksi novel-novelnya, sangat berbanding terbalik denganku. Yang tak minat untuk membaca novel, apalagi harus membaca novel setebel-tebelnya dengan ratusan halaman yang menggunakan font kecil, duh meribetkan.
Kembali kebatang coklat tadi, aku heran siapa pemilik coklat ini. Kenapa dia begitu niat mengirimkan coklat tiap hari rabu kepadaku.
"Eh gi, lu yang ngasih coklat ke gue ya?" Tanya ku pada Ogi, ya Ogi sasaran utamaku aku tanyakan, karena kadang tingkah dia yang selalu keterlaluan.
"Kalo iya emg kenapa Bella ? Pasti lo gak akan percaya" ucap santai dari ogi
"Itu ogi yang bikin special buat kamu sayaang"tambah Ogi lagi
"Lu percaya sama si Ogi Bell ? Cowo mata keranjang gitu hahaha" tawa Faye
Ogi juga malah cengengesan seperti itu. Dan tampang wajahnya sangat tidak bisa dipercaya
Bener juga kata Faye, duh aku semakin bingung. Lantas siapakah ? Aldo ? Gak mungkin banget. Dia sahabat aku, lantas jika dia yang memberikan coklatnya padaku, pasti dia langsung memberikan kepadaku. Tidak mungkin dengan rahasia-rahasiaan seperti ini.
"Yuk Bell cabut sekarang, udah makan aja coklatnya jangan bikin bingung gitu, lagian lu harusnya bersyukur Bell" Ajak Aldo, dan benar yang Aldo katakan aku harusnya bersyukur dengan semua ini.
Sudah tak usah dihiraukan Bell, ujarku dalam hati.
"Ya udah, yuk cabut"
Aku, Aldo, Faye, Igo dan teman lainnya yang akan ikut belajar bareng bergegas keluar kelas, menuju parkiran.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar